Umat Islam di Bali Boleh Takbiran tanpa Pengeras Suara Jika Malam Idul Fitri Bersamaan dengan Nyepi

2 hours ago 1

Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali membantu menuntun umat Islam usai melaksanakan shalat tarawih pertama bulan Ramadhan 1445 Hijriah yang bertepatan dengan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1946 di Masjid Agung Asasuttaqwa, Desa Adat Tuban, Badung, Bali, Senin (11/3/2024). Pihak Desa Adat Tuban mengizinkan umat Islam yang merupakan pengurus masjid dan warga setempat untuk melaksanakan shalat tarawih di masjid tersebut yang digelar secara tertutup untuk umum dengan jumlah peserta terbatas, tidak menggunakan pengeras suara dan penerangan yang dibatasi saat beribadah guna menghormati umat Hindu yang sedang menjalani catur brata penyepian saat Hari Raya Nyepi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Agama (Kemenag) menerbitkan panduan melaksanakan malam takbiran Idul Fitri 1447 H/2026 bagi umat Islam di Bali apabila jatuh pada 19 Maret 2026 yang berbarengan dengan hari raya Nyepi.

Salah satu poinnya, umat Islam boleh melaksanakan takbiran tanpa pengeras suara. Panduan ini dirumuskan berdasarkan hasil koordinasi Kementerian Agama dengan pemerintah daerah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat Bali.

“Sejak awal kami telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta para tokoh agama di Bali. Prinsipnya, jika memang waktunya bersamaan, kedua perayaan ini tetap dapat dijalankan dengan saling menghormati dan penuh pengertian,” ujar Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama Thobib Al Asyhar di Jakarta, belum lama ini.

Thobib mengatakan, panduan tersebut juga diterbitkan untuk memastikan kedua perayaan keagamaan ini, jika waktunya memang bersamaan, tetap dapat berlangsung dengan baik, penuh toleransi dan saling menghormati, serta menjaga harmoni kehidupan beragama di Bali.

Adapun panduan lengkap yakni pertama, umat Islam diperkenankan melaksanakan takbiran di masjid atau mushala terdekat dengan berjalan kaki, tanpa penggunaan pengeras suara, tanpa menyalakan petasan/mercon atau bunyi-bunyian lainnya, serta menggunakan penerangan secukupnya, mulai pukul 18.00 WITA sampai dengan pukul 21.00 WITA.

Kedua, pengamanan dan ketertiban pelaksanaan takbiran menjadi tanggung jawab masing-masing pengurus masjid atau mushala, dengan tetap berkoordinasi dengan aparat keamanan setempat.

sumber : Antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |