Trump Batalkan Project Freedom Usai Saudi dan Kuwait Tolak Izinkan AS Pakai Ruang Udaranya

3 weeks ago 56

Kapal penyapu ranjau USS Santa Barbara (LCS 32) yang membersamai USS Tulsa (LCS 16) tiba di Singapura sebelum bertolak ke Selat Hormuz pada 18 Maret 2026.

REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan menarik diri secara mendadak dari rencana operasi "Project Freedom" hanya dua hari setelah inisiatif tersebut diluncurkan. Penghentian operasi militer Angkatan Laut AS untuk mengawal kapal keluar dari Selat Hormuz ini diambil setelah sekutu utama Washington di Teluk, Arab Saudi, memblokir akses ke pangkalan militer dan ruang udara mereka.

Hanya dalam waktu 48 jam setelah mengumumkan operasi pengawalan kapal melalui Selat Hormuz, pemimpin AS memutuskan untuk menangguhkan proyek tersebut. Penangguhan ini disebut-sebut guna memberi ruang bagi negosiasi antara Washington dan Teheran, menyusul serangkaian serangan terhadap kapal-kapal di Teluk dan hantaman rudal di sebuah pelabuhan di Uni Emirat Arab (UEA) pada Selasa lalu.

The Independent melaporkan, dua pejabat AS mengungkapkan kepada NBC News bahwa keputusan Trump untuk menghentikan operasi tersebut didorong oleh protes keras dari pihak Arab Saudi.

Para pemimpin Arab Saudi dilaporkan merasa gusar dengan pengumuman sepihak tersebut. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menyampaikan kepada AS bahwa mereka tidak akan mengizinkan militer Amerika menerbangkan pesawat melalui Pangkalan Udara Pangeran Sultan yang terletak di tenggara ibu kota Riyadh.

Pejabat terkait menyatakan, Kerajaan juga menolak akses bagi pesawat AS mana pun untuk melintasi ruang udara Saudi sebagai bagian dari "Project Freedom". Sebuah pembicaraan telepon dikabarkan telah terjadi antara Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), namun keduanya gagal mencapai kesepakatan—situasi yang memaksa Presiden AS untuk membatalkan operasi tersebut.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |