Peran HKTI Melestarikan Swasembada Beras

2 hours ago 3

Oleh: Entang Sastraatmadja, Anggota Dewan Pakar DPN HKTI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) perannya dalam melestarikan swasembada beras itu, lebih ke "penggerak dari bawah" supaya petani padi kuat dan produktif. Paling tidak, ada empat peran yang melekat di dalamnya.

Pertama, sebagai wadah dan penggerak petani. HKTI jadi rumah besar buat "Rukun Tani" padi se-Indonesia. Fungsinya menghimpun potensi petani, mengarahkan perjuangan serta menyalurkan aspirasi ke pemerintah. Dengan demikian, suara petani beras lebih didengar.

Kedua, pemberdayaan dan bimbingan teknis budi daya. Melalui program "Amal Tani", HKTI memberikan bimbingan teknis budi daya padi ke anggotanya. Tujuannya, meningkatkan produktivitas dan kualitas gabah biar hasil panen stabil.

Ketiga, bantuan sarana produksi. Dalam konteks ini, HKTI menyalurkan alat mesin pertanian/alsintan buat petani. Alsintan membuat proses tanam-panen lebih cepat, efisien, dan mengurangi susut pascapanen. Ini kunci biar produksi beras tidak anjlok.

Peran keempat, mendorong kedaulatan pangan desa. Terkait hal ini, visi HKTI menjadi organisasi percontohan buat petani mandiri yang berdampak ke "kedaulatan pangan bangsa".

Dengan program "Kesejahteraan Desa" HKTI juga mengembangkan ekonomi perdesaan berbasis pertanian agar petani padi tidak rugi dan tetap mau menanam padi.

Intinya, HKTI tidak langsung menanam padi, tapi membuat ekosistemnya sehat. Selain itu, petani sejahtera, lahan tetap produktif, dan swasembada beras terjaga. Apalagi, melestarikan swasembada beras 2025, tak cukup mudah diwujudkan. Tidak juga segampang seperti anak-anak embolak-balik telapak tangan saat bermain "hompimpah".

Secara konsep, HKTI pemikirannya cukup bagus, tapi lapangannya sangat berat. Tantangan untuk melestarikan swasembada beras itu banyak yang "dihadapi bersama" dengan petani padi. Jadi, wajar HKTI juga kena imbasnya.

Terdapat lima kendala utama HKTI dalam melakukan kiprahnya melestarikan swasembada beras. Utamanya, alih fungsi dan keterbatasan lahan. Data menunjukkan, lahan sawah makin sempit karena tingginya alih fungsi jadi perumahan/industri.

HKTI bisa membina petani, tapi kalau lahannya hilang, target produksi beras pasti turun. Selanjutnya, iklim ekstrem dan serangan hama penyakit. Perubahan iklim membuat musim tanam tidak menentu.

Wereng, tikus, banjir/kekeringan mengakibatkan hasil panen anjlok. HKTI sudah memberikan bimbingan tetapi kalau hama masif, petani tetap rugi. Kemudian, pupuk dan alsintan masih susah diakses. Distribusi pupuk subsidi tidak merata.

Tak hanya itu, ketergantungan impor pupuk dan bahan baku pertanian juga tinggi.

HKTI membantu menyalurkan alsintan lewat "Amal Tani", sayangnya jangkauannya masih terbatas anggaran dan infrastruktur.

Lalu, irigasi dan infrastruktur lemah. Banyak daerah terpencil yang irigasinya belum memadai. Distribusi pangan serta infrastruktur pertanian juga jadi hambatan besar. HKTI bisa mengadvokasi, tapi pembangunan fisik tetap kewenangan pemerintah/daerah.

Bisa juga terkait regenerasi petani dan teknologi. Anak muda kurang mau jadi petani. Teknologi pertanian di tingkat petani masih lemah. HKTI punya fungsi "arena pemberdayaan dan pendidikan insan tani", tapi butuh waktu mengubah mindset dan transfer teknologi.

Secara ringkas, HKTI itu ibarat "pelatih dan penghubung". Kendalanya justru di lapangan seperti lahan, iklim, pupuk, irigasi, dan regenerasi. Tanpa dukungan kebijakan dan anggaran yang nyambung antara pusat-daerah, kerja HKTI jadi lebih berat.

HKTI jelas tidak bisa "membalikan" sawah yang sudah jadi mall, tapi HKTI punya jurus buat "mensiasati" kendala di lapangan. Fokusnya menguatkan posisi petani dan mencari terobosan cerdas berbagai faktor yang masih bisa diintervensi.

Lima solusi atau gerakan HKTI untuk melestarikan swasembada beras:

1.Bimbingan dan Pendidikan Petani.

Fungsi HKTI ada "arena pemberdayaan dan pendidikan insan tani". Contoh nyata, HKTI Landak mengadakan sosialisasi pengendalian hama terpadu PHT ke petani. Jadi tidak cuma membagikan alsintan, tapi mengajarkan cara melawan wereng/tikus biar tidak gagal panen.

2.Bantuan Sarana Produksi "Amal Tani". Untuk mengatasi susahnya alsintan dan

pupuk, HKTI menyalurkan bantuan alat mesin pertanian dan bimbingan teknis budi daya. Bupati Karolin waktu jadi Ketua HKTI Landak pernah membagikan 3.300 alsintan selama 5 tahun. Alsintan membuat tanam-panen lebih cepat, susut panen lebih kecil.

3.Penguatan Organisasi dan Aspirasi Petani

HKTI jadi "wadah penghimpun" dan "sarana penampung aspirasi" petani. Lewat "hubungan kerukunan" mereka membentuk forum komunikasi dan bimbingan keorganisasian. Tujuannya, kalau ada masalah pupuk tidak merata atau irigasi rusak, suara petani padi bisa naik ke pemerintah/daerah.

4.Dorong Kemandirian dan Ekonomi Desa

Program "Kesejahteraan Desa" fokus mengembangkan ekonomi perdesaan berbasis pertanian. Visinya, petani mandiri, transparan, berdampak ke kedaulatan pangan bangsa. Jadi petani padi tidak cuma menanam, tapi juga untung. Kalau untung, lahan tidak gampang dijual buat alih fungsi.

5.Respons Cepat Krisis

Misi sosial HKTI antara lain respons cepat ke krisis petani dan memastikan hak dasar petani terpenuhi. Misal ada bencana alam, HKTI turun aksi tanggap darurat. Ini penting biar puso tidak membuat produksi anjlok.

Peran HKTI melestarikan swasembada beras, sebetulnya telah berwujud nyata. HKTI, jelas tak boleh berpangku tangan. HKTI perlu proaktif. Kuncinya, HKTI fokus di "SDM, alat, dan suara". Lahan dan iklim, tak bisa diubah, tapi petani bisa disiapkan agar lebih tangguh dan profesional. 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |