Tragedi Situ Gintung 2009: Refleksi 17 Tahun, antara Luka Dan Pembelajaran Ekologis

6 hours ago 3

Oleh : Rahmat Salam, Koordinator Penanggulangan Bencana Jebolnya Situ Gintung pada hari Jumat 27 Maret 2009 & Dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jumat dini hari, 27 Maret 2009, menjadi lembaran hitam dalam sejarah tata ruang Jabodetabek. Jebolnya tanggul Situ Gintung bukan sekadar kegagalan infrastruktur fisik, melainkan sebuah alarm keras tentang betapa rapuhnya keseimbangan antara permukiman manusia dan daya dukung lingkungan.

Sebagai saksi dan pelaksana koordinasi di lapangan saat itu, ada beban moral untuk memastikan bahwa "monumen peringatan" ini tidak hanya berupa batu, melainkan berupa kebijakan yang preventif.

Tsunami darat yang menerjang dalam hitungan menit di pagi buta itu merenggut hampir 100 nyawa. Sebagai koordinator, ingatan akan kepanikan, duka mendalam keluarga korban, dan solidaritas relawan yang bahu-membahu di atas lumpur adalah pengingat bahwa di balik setiap angka statistik bencana, ada nyawa, masa depan, dan keluarga yang hancur. Menuliskan kembali memori ini bukan untuk membuka luka lama, melainkan untuk menjaga agar kewaspadaan kolektif kita tidak pudar oleh waktu.

Pembelajaran teknis terbesar dari Situ Gintung adalah pentingnya Audit Lingkungan Terpadu.

• Alih Fungsi Lahan: Tekanan penduduk yang masif mengubah sempadan situ menjadi permukiman padat.

• Integritas Struktur: Situ yang dibangun sejak era kolonial (1933) telah melampaui kapasitas desainnya tanpa adanya penguatan struktur yang sebanding dengan beban lingkungan modern.

• Literasi Bencana: Minimnya sistem peringatan dini (early warning system) membuat masyarakat tidak memiliki waktu evakuasi yang cukup saat debit air melampaui batas kritis.

Paradigma "One River, One Plan, One Integrated Management"

Tragedi ini mengajarkan bahwa sungai, situ, dan danau tidak bisa dikelola secara parsial atau berdasarkan batas administratif semata. Situ Gintung berada di Tangerang Selatan, namun dampaknya bersifat regional, menghajar Kali Pesanggrahan sampai hanyut ke Teluk Jakarta.

• Integrasi Hulu–Hilir: Pengelolaan air di Jabodetabek harus menggunakan pendekatan satu kesatuan sistem hidrologi.

• Kearifan Lokal vs Modernitas: Kita harus mengawinkan teknologi pemantauan satelit terbaru dengan kearifan lokal masyarakat dalam membaca tanda-tanda alam.

Dari Mitigasi ke Resiliensi (Ketangguhan)

Satu hal yang bisa kita petik adalah transformasi dari manajemen "pemadam kebakaran" (reaktif) menjadi manajemen risiko yang proaktif.

• Normalisasi dan Revitalisasi: Situ bukan sekadar tempat penyimpanan air, tetapi ruang publik dan penyangga ekosistem yang harus memiliki batas sempadan yang suci dari bangunan.

• Kepemimpinan dalam Krisis: Koordinasi lintas sektor—mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga komunitas basis—adalah kunci utama dalam meminimalkan dampak bencana di masa depan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |