Selat Hormuz dan Tatanan Global yang Sedang Berubah

4 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Azis Subekti, Anggota DPR Fraksi Gerindra

Jika kita melihat kembali rangkaian cerita tentang Selat Hormuz—tentang energi dunia yang mengalir di jalur sempit itu, tentang memori panjang Persia, tentang perubahan keseimbangan kekuatan global, hingga tentang perdebatan keras di dalam politik Amerika—maka perlahan muncul satu kesan yang sulit diabaikan. Dunia yang kita kenal selama beberapa dekade terakhir sedang berubah.

Selama hampir delapan puluh tahun setelah Perang Dunia Kedua, sistem internasional memiliki sesuatu yang secara tidak resmi berfungsi sebagai “wasit global”. Banyak negara mungkin tidak selalu sepakat dengan kebijakan Washington, tetapi ada satu kenyataan yang hampir semua pihak pahami: Amerika Serikat memiliki kapasitas militer, ekonomi, dan politik untuk menjaga stabilitas jalur-jalur penting dunia.

Selat Hormuz adalah salah satu simbol dari sistem itu.

Di jalur air sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia tersebut, kapal-kapal tanker dari berbagai negara bergerak setiap hari membawa energi yang menghidupkan ekonomi global. Selama puluhan tahun, stabilitas jalur ini relatif terjaga karena ada kekuatan militer yang memastikan bahwa perdagangan internasional dapat terus berjalan.

Namun seperti banyak tatanan dalam sejarah, sistem itu tidak pernah benar-benar permanen. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak tanda bahwa keseimbangan global sedang bergerak menuju fase baru.

Persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok semakin terasa dalam bidang ekonomi, teknologi, dan geopolitik. Rusia kembali memainkan peran yang lebih aktif dalam berbagai konflik internasional.

Dalam dunia yang semakin multipolar seperti ini, konflik regional sering memiliki potensi untuk menarik perhatian kekuatan global yang lebih luas. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz adalah contoh yang sangat jelas.

Di satu sisi ada Iran—sebuah negara yang tidak hanya melihat dirinya sebagai aktor politik modern, tetapi juga sebagai pewaris peradaban Persia yang panjang. Kesadaran sejarah seperti ini sering memberi Iran perspektif yang berbeda dalam menghadapi tekanan internasional.

Di sisi lain ada Israel yang memandang Iran sebagai ancaman strategis jangka panjang terhadap keamanannya. Di atas semua itu, kebijakan luar negeri yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump berusaha mempertahankan posisi Amerika dalam tatanan global yang semakin kompleks.

Namun dalam dunia yang semakin multipolar, bahkan kekuatan terbesar pun tidak selalu dapat mengendalikan setiap dinamika konflik. Di sinilah kita mulai memahami mengapa Selat Hormuz terasa seperti cermin kecil dari perubahan besar yang sedang terjadi.

Di jalur air itu bertemu berbagai kepentingan: energi dunia, rivalitas geopolitik, dan memori sejarah bangsa-bangsa.Dan ketika semua kepentingan itu bertemu dalam ruang yang sempit, stabilitas menjadi sesuatu yang jauh lebih rapuh daripada yang sering kita bayangkan.

Dalam situasi seperti ini, merasionalkan Iran mungkin menjadi sesuatu yang hampir mustahil—setidaknya dalam jangka pendek. Luka sejarah, tekanan geopolitik, dan logika keamanan sering membuat setiap pihak bergerak dalam lingkaran kecurigaan yang sulit diputus.

Namun justru karena itulah satu hal tidak boleh hilang dari panggung internasional: komunikasi.

Dunia tetap perlu menjaga jalur percakapan dengan semua pihak yang terlibat dalam ketegangan di sekitar Selat Hormuz. Dengan Iran tentu saja. Tetapi juga dengan Amerika Serikat dan bahkan dengan Israel melalui berbagai jalur diplomasi yang mungkin tersedia.

Sering kali dalam politik internasional, percakapan semacam ini tidak terjadi secara langsung. Ia bergerak melalui negara perantara, forum multilateral, atau jaringan hubungan diplomatik yang lebih luas.

Namun keberadaan jalur komunikasi seperti itu sering menjadi satu-satunya cara untuk mencegah krisis regional berubah menjadi konflik yang jauh lebih besar. Karena pada akhirnya ada satu pelajaran lama yang terus berulang dalam sejarah perang. Tidak pernah ada kemenangan yang benar-benar absolut.

Perang mungkin menghasilkan pemenang di medan tempur. Tetapi hampir selalu ia meninggalkan luka yang panjang—luka ekonomi, luka politik, dan luka kemanusiaan—yang harus ditanggung oleh semua pihak.

Dalam dunia yang sedang kehilangan wasit global, stabilitas tidak lagi bisa sepenuhnya dijaga oleh satu kekuatan saja. Ia harus dibangun melalui keseimbangan yang lebih rapuh, lebih kompleks, dan sering kali lebih tidak pasti. Di sinilah negara-negara yang memilih jalan diplomasi dan keseimbangan justru dapat memainkan peran yang penting.

Bagi Indonesia, dunia yang semakin terbelah seperti ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Indonesia mungkin bukan kekuatan militer global, tetapi negara ini memiliki posisi geografis strategis, ekonomi yang terus berkembang, dan tradisi diplomasi yang relatif moderat. Dalam situasi global yang semakin tegang, posisi yang paling bijak bagi Indonesia bukanlah terjebak dalam rivalitas blok kekuatan.

Sebaliknya, Indonesia dapat terus menjaga komunikasi dengan berbagai pihak, memperkuat ketahanan ekonomi dan energinya sendiri, serta memainkan peran sebagai jembatan diplomatik dalam sistem internasional yang semakin kompleks. Karena dalam dunia tanpa wasit, sering kali yang paling dibutuhkan bukan hanya kekuatan. Yang paling dibutuhkan adalah kemampuan untuk tetap menjaga keseimbangan.

Selat Hormuz mungkin hanya sebuah jalur air sempit di peta dunia. Namun dari sana kita dapat melihat gambaran yang jauh lebih besar tentang arah sejarah yang sedang bergerak.

Di jalur itu bertemu kapal-kapal tanker, armada militer, dan kepentingan geopolitik berbagai negara. Ia adalah tempat di mana energi dunia mengalir—dan sekaligus tempat di mana perubahan dalam tatanan global mulai terlihat.

Dan mungkin dari selat yang sempit itulah kita dapat membaca satu kenyataan yang semakin jelas dalam politik internasional hari ini. Bahwa dunia yang dulu tampak memiliki pengatur tunggal kini perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.

Sebuah dunia tanpa wasit.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |