Rusia Tantang Dunia, Jerman Bersenjata: 3 Analis Bedah Nasib NATO yang Terbelah

9 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Empat tahun setelah tentara Rusia mundur dari Bucha, meninggalkan bukti kebrutalan yang mengguncang nurani dunia, perang di Ukraina masih jauh dari titik penyelesaian.

Di Moskow, seorang profesor terkemuka menyusun argumen tentang bagaimana Rusia bisa memenangkan apa yang ia sebut sebagai "perang dunia baru." Di Berlin, seorang akademisi mempertanyakan apakah masyarakat Jerman benar-benar siap menghadapi konsekuensi dari ambisi militer yang tiba-tiba mereka canangkan.

Di Kyiv, seorang jurnalis senior dengan tenang namun tegas menjelaskan mengapa tuntutan Rusia dalam meja perundingan tidak berbeda dari permintaan penyerahan diri. Tiga suara, tiga perspektif yang bertolak belakang dalam banyak hal, namun ketika dibaca bersama, ketiganya membentuk gambaran yang paling jujur tentang di mana dunia sesungguhnya berada dalam konflik yang paling berbahaya sejak Perang Dingin.

Rusia Harus Bermain Lebih Keras

Profesor Sergey Karaganov, ketua kehormatan Dewan Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan Rusia, memulai analisanya di RT dengan sebuah klaim yang, jika datang dari siapa pun selain seorang analis senior dengan rekam jejak panjang, mungkin akan diabaikan begitu saja: perang dunia skala penuh telah dimulai.

Bagi Karaganov, konflik yang tengah berlangsung bukan sekadar perang di Ukraina. Ia adalah babak terbaru dari pertarungan yang berakar sejak 1917, ketika Uni Soviet memisahkan diri dari sistem kapitalis global dan memulai apa yang kemudian menjadi konfrontasi berabad-abad. "Gelombang pembebasan nasional melanda dunia, disertai dengan nasionalisasi sumber daya yang telah direbut oleh negara-negara Barat," tulisnya, memberikan konteks historis yang melampaui batas-batas konflik Ukraina-Rusia.

Dalam pembacaan Karaganov, kesalahan Rusia bukan pada keputusan untuk bertindak, melainkan pada cara bertindak. Ia menyebut beberapa kekeliruan strategis yang menurutnya telah memperlemah posisi Moskow: meremehkan tekad Barat untuk menghancurkan Rusia, meremehkan kesiapan militer Ukraina, dan yang paling krusial, gagal memanfaatkan secara optimal senjata terpenting dalam arsenal Rusia, yakni pencegahan nuklir.

"Kita telah terseret ke dalam konflik yang disebut sebagai 'operasi militer khusus,' yang secara efektif menerima aturan main yang diberlakukan, sebuah perang gesekan," tulisnya dengan nada yang mencerminkan frustrasi seorang analis yang merasa peringatannya tidak cukup didengarkan.

Resep Karaganov adalah yang paling kontroversial di antara ketiga analis ini. Ia menyerukan revisi doktrin nuklir Rusia agar secara eksplisit menyatakan kesiapan menggunakan senjata nuklir jika Barat terus meningkatkan eskalasi. "Ilusi bahwa elit politik dan militer dapat bersembunyi di bunker atau lokasi terpencil harus dihilangkan," tegasnya. Ia bahkan menyarankan agar Rusia mempertimbangkan pengujian nuklir untuk memperkuat kredibilitas pencegahannya.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |