Karyawan menghitung uang pecahan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai rupiah tertekan akibat eskalasi konflik di Selat Hormuz antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Nilai tukar rupiah pada Jumat (8/5/2026) pagi melemah 24 poin atau 0,14 persen menjadi Rp 17.357 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.333 per dolar AS.
Rully mengatakan rupiah pada perdagangan Jumat diperkirakan menguat terbatas dalam rentang Rp 17.320 hingga Rp 17.370 per dolar AS, seiring mulai meredanya tekanan terhadap mata uang domestik. Namun, sentimen global kembali memengaruhi pergerakan rupiah setelah harga minyak naik akibat meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.
“Faktor global kembali memengaruhi dengan naiknya harga minyak setelah eskalasi ketegangan di Selat Hormuz meningkat akibat aksi balasan militer AS terhadap Iran,” ujar Rully di Jakarta, Jumat.
Mengutip Sputnik, Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Ebrahim Zolfaghari mengatakan AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang sejumlah wilayah Iran, termasuk pantai Pelabuhan Khamir, Kota Sirik, Pulau Qeshm, serta dua kapal Iran.
Angkatan bersenjata Iran kemudian membalas dengan menyerang kapal perang AS di sebelah timur Selat Hormuz dan selatan Pelabuhan Chabahar yang disebut menyebabkan kerusakan signifikan.
sumber : ANTARA
.png)
3 weeks ago
66

















































