Purbaya Sebut Ada Ekonom Aneh, Bantah Indonesia Sedang Menuju Resesi

4 hours ago 2

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan saat konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026 di Jakarta, Rabu (11/3/2026). Kementerian Keuangan melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Februari 2026 mencapai Rp135,7 triliun atau setara 0,53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah pernyataan sejumlah kalangan yang menyebut kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang menuju resesi. Dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026), Purbaya mengatakan berbagai indikator ekonomi justru menunjukkan tren penguatan akselerasi pertumbuhan. Salah satunya adalah Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang mencapai 53,8 pada Februari 2026.

Angka tersebut merupakan salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan menandakan sektor manufaktur berada dalam fase ekspansi.

"Katanya kita sudah resesi. Ekonom-ekonom yang agak aneh itu bilang kita sudah resesi, tinggal hancurnya. Padahal kalau kita lihat dari tadi, PMI naik ke level yang tinggi. Terus kita lihat Mandiri MSI, Mandiri Index, itu sekarang di 360,7 dan kita lihat trennya naik ke atas," ujar Purbaya.

Ia menjelaskan data PMI tersebut menunjukkan sisi produksi atau suplai dalam perekonomian tumbuh kuat. Menurutnya, hal ini juga menjadi konfirmasi dari lembaga di luar pemerintah bahwa aktivitas ekonomi Indonesia sedang meningkat.

Selain itu, sejumlah indikator lain juga menunjukkan tren positif. Purbaya menyebut penjualan mobil pada Februari 2026 tumbuh 12,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja konsumsi juga terlihat dari pertumbuhan penjualan ritel yang mencapai 6,9 persen secara tahunan. Angka tersebut menunjukkan permintaan domestik tetap kuat.

Menkeu menambahkan optimisme masyarakat juga tercermin dari indeks kepercayaan konsumen yang berada di level 125,2. Level tersebut dinilai cukup tinggi dan mencerminkan meningkatnya keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi.

"Banyak orang bilang katanya daya beli masyarakat terpukul. Ya, kalau yang lagi susah ya susah tetap, tapi kan kita melihat keadaan umum. Keadaan umum ditangkap dari survei kepercayaan konsumen. Jadi memang daya beli masyarakat membaik," jelas Purbaya.

sumber : Antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |