Perbedaan 1 Syawal: Antara Ilmu, Ijtihad dan Kedewasaan Umat

2 hours ago 3

Lanskap langit saat proses pengamatan hilal guna menetapkan 1 Ramadhan 1447 H di Monumen Nasional (Monas, Jakarta, Selasa (17/2/2026).

Oleh: Kamarul Zaman*)

Perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri kembali berpotensi terjadi pada tahun 1447 H/2026 M ini. Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal jatuh pada 20 Maret 2026 dengan metode hisab melalui Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT). Adapun Kementerian Agama (Kemenag) RI dan Nahdlatul Ulama (NU) menunggu hasil rukyat sehingga berpotensi menetapkan tanggal yang berbeda dengan Persyarikatan.

Fenomena ini bukanlah hal baru. Namun, setiap tahun ia selalu menghadirkan reaksi yang sama: perdebatan, kebingungan, atau bahkan polarisasi di ruang-ruang publik, terutama media sosial.

Di titik inilah, umat Islam dihadapkan pada satu pertanyaan penting: apakah kita sudah cukup dewasa dalam menyikapi perbedaan?

Berakar pada ilmu

Perbedaan penentuan Idul Fitri pada dasarnya bukan konflik, melainkan konsekuensi dari dua pendekatan ilmiah dalam Islam:

Hisab: perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan

Rukyat: pengamatan langsung hilal (bulan sabit pertama)

Keduanya memiliki dasar syar’i yang kuat.

Allah SWT berfirman:

اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ

“Matahari dan bulan (beredar) sesuai dengan perhitungan” (QS ar-Rahman: 5).

Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya” (HR Bukhari dan Muslim).

Dua dalil ini menunjukkan, Islam memberi ruang bagi pendekatan observasi dan sekaligus perhitungan. Maka, perbedaan yang muncul bukanlah penyimpangan, melainkan hasil dari ijtihad.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |