Susu kental manis atau SKM (ilustrasi). Dokter mengatakan mengonsumsi SKM setiap hari bisa menimbulkan risiko kesehatan termasuk diabetes hingga obesitas.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak keluarga di Indonesia masih menjadikan susu kental manis (SKM) sebagai minuman susu harian, terutama saat sarapan. Padahal, produk ini sebenarnya tidak dirancang untuk dikonsumsi sebagai pengganti susu karena kandungan gulanya jauh lebih tinggi dibandingkan susu segar maupun susu ultra high temperature (UHT).
Dokter sekaligus pakar gizi, Dr dr Karina Rahmadia Ekawidyani, mengatakan SKM merupakan produk olahan susu yang dibuat dengan mengurangi kadar air dan menambahkan gula dalam jumlah besar yaitu sekitar 40-50 persen. Karena itu, mengonsumsi SKM setiap hari bisa menimbulkan risiko kesehatan termasuk diabetes hingga obesitas.
"Karena komposisi susunya sudah jauh lebih rendah, kandungan protein dan lemanya juga tidak sesuai jika dikonsumsi sebagai susu harian, maka kalau dijadikan susu minum utama, ada risiko kesehatan," kata dia dalam keterangan tertulis pada akhir pekan lalu.
Menurut dr Karina, dibandingkan susu segar dan susu UHT, kandungan gizi SKM relatif lebih rendah. Meski tetap mengandung lemak dan protein, jumlahnya belum mencukupi kebutuhan gizi harian, sehingga anggapan bahwa produk ini setara dengan susu minum tidak tepat.
la mengatakan hampir setengah kandungan SKM adalah gula. Dalam satu takaran saji sekitar 30 gram atau setara tiga sendok makan, terdapat kurang lebih 15 gram gula. Sementara itu, batas konsumsi gula harian yang dianjurkan dalam pedoman gizi seimbang adalah 50 gram.
"Artinya, jika seseorang mengonsumsi sekitar sembilan sendok makan SKM dalam sehari, jumlah tersebut sudah mencapai batas konsumsi gula harian," kata dia.
.png)
10 hours ago
6















































