OJK siapkan ETF dan tokenisasi emas guna perkuat industri bullion.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan peluncuran produk Exchange Traded Fund (ETF) emas dan pengembangan tokenisasi emas sebagai bagian dari strategi memperkuat industri bank emas (bullion bank) di Indonesia. Inisiatif ini diluncurkan dalam rangka pendalaman pasar yang lebih mendalam.
OJK telah menerbitkan Peraturan OJK (POJK) Nomor 2 Tahun 2026 terkait reksa dana berbentuk kontrak investasi kolektif (KIK) dengan aset dasar berupa emas, atau dikenal sebagai ETF emas. "Peraturan ini dirancang untuk mendukung akselerasi pendalaman pasar dan sejalan dengan rencana kerja implementasi kegiatan usaha bullion sebagai instrumen strategis dalam mendorong perekonomian nasional," kata Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, saat peluncuran peta jalan ekosistem bullion Indonesia di Jakarta, Jumat.
Dian menjelaskan bahwa emas merupakan instrumen investasi yang sangat diminati oleh masyarakat Indonesia. Dengan hadirnya ETF emas, diharapkan akses investor terhadap pasar emas melalui instrumen pasar modal dapat diperluas.
Selain ETF, OJK juga mendorong inovasi keuangan melalui pengembangan tokenisasi emas. Saat ini, uji coba tokenisasi emas tengah berlangsung dalam regulatory sandbox OJK dan menunjukkan hasil yang positif. Selama masa uji coba tersebut, sebanyak 3.750 gram emas telah ditokenisasi dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp8 miliar. "Manfaat dari tokenisasi emas antara lain mencakup fraksionalisasi, efisiensi, dan transparansi," tambah Dian.
Pengembangan berbagai instrumen ini merupakan bagian dari peta jalan pengembangan dan penguatan ekosistem bullion nasional untuk periode 2026-2031. Dokumen tersebut terdiri atas dua bagian utama: pengembangan ekosistem bullion dari hulu hingga hilir serta kegiatan usaha bullion di sektor jasa keuangan.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa jumlah nasabah bullion bank mengalami peningkatan signifikan dalam satu tahun terakhir, dari 3,2 juta orang pada Februari 2025 menjadi sekitar 5,7 juta orang saat ini.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara
.png)
6 hours ago
4
















































