REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam Alquran Allah berfirman dengan ungkapan yang sangat menyentuh hati berikut ini:
فَلَمَّا جَآءَهُم بِـَٔايَٰتِنَآ إِذَا هُم مِّنْهَا يَضْحَكُونَ
fa lammā jāahum biāyātinā iżā hum min-hā yaḍ-ḥakụn
“Maka tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami, dengan serta-merta mereka mentertawakannya.”
وَمَا نُرِيهِم مِّنْ ءَايَةٍ إِلَّا هِىَ أَكْبَرُ مِنْ أُخْتِهَا ۖ وَأَخَذْنَٰهُم بِٱلْعَذَابِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
wa mā nurīhim min āyatin illā hiya akbaru min ukhtihā, wa akhażnāhum bil-‘ażābi la’allahum yarji’ụn
“Tidaklah Kami perlihatkan kepada mereka sesuatu mukjizat kecuali mukjizat itu lebih besar dari mukjizat-mukjizat sebelumnya. Dan Kami timpakan kepada mereka azab supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).”
وَقَالُوا۟ يَٰٓأَيُّهَ ٱلسَّاحِرُ ٱدْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِندَكَ إِنَّنَا لَمُهْتَدُونَ
wa qālụ yā ayyuhas-sāḥirud’u lanā rabbaka bimā ‘ahida ‘indak, innanā lamuhtadụn
“Mereka berkata: ‘Hai ahli sihir, berdoalah kepada Tuhanmu untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu; sesungguhnya kami benar-benar akan menjadi orang yang mendapat petunjuk.’”
فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ ٱلْعَذَابَ إِذَا هُمْ يَنكُثُونَ
fa lammā kasyafnā ‘an-humul-‘ażāba iżā hum yangkuṡụn
“Maka tatkala Kami hilangkan azab itu dari mereka, dengan serta-merta mereka memungkiri (janjinya).” (QS Az-Zukhruf: 47–50)
Ada jenis tawa yang terdengar ringan di bibir, tetapi sesungguhnya lahir dari hati yang keras. Tawa yang bukan muncul karena kegembiraan, melainkan karena kesombongan yang merasa dirinya terlalu tinggi untuk mendengarkan kebenaran.
Begitulah Alquran menggambarkan kaum Fir’aun ketika Nabi Musa datang membawa ayat-ayat Allah. Mereka tidak berhenti sejenak untuk merenung. Mereka tidak mencoba memahami. Mereka justru menertawakannya.
Barangkali memang demikian sifat manusia ketika merasa terlalu nyaman dengan kekuasaan, terlalu mabuk oleh kemegahan dunia, atau terlalu yakin bahwa dirinya tidak akan pernah runtuh. Kebenaran sering kali pertama-tama dianggap ancaman bagi kesombongan.
Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa ejekan kaum Fir’aun bukan karena mereka benar-benar tidak melihat tanda-tanda kebenaran. Justru sebaliknya, mereka mengetahui ada sesuatu yang luar biasa pada diri Musa, tetapi hati mereka menolak tunduk.
.png)
3 weeks ago
54

















































