REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terus melanda Riau dan Kepulauan Riau, memaksa regu Manggala Agni bekerja di tengah panas menyengat dan berpuasa, Selasa (10/3/2026). Di Pelalawan, petugas bahkan sempat berhadapan langsung dengan Harimau Sumatera, menambah risiko operasi pemadaman yang sudah berat.
Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian, menyoroti tantangan tim karena sebagian besar anggota sedang berpuasa dan harus menjaga kondisi tetap fit di tengah cuaca panas serta risiko keamanan. “Kendala yang ada selain kondisi cuaca sangat panas juga faktor keamanan, tadi malam di sekitar lokasi pemadaman di Pulau Muda, Pelalawan ditemukan 1 ekor Harimau Sumatera, kondisi ini tentunya menjadi kewaspadaan dari semua anggota untuk menjaga keselamatan selama bekerja, SOP keselamatan kerja harus dikerjakan dengan disiplin,” katanya, Rabu (11/3/2026).
Untuk menjaga keselamatan petugas dan satwa, koordinasi dengan BBKSDA Riau telah dilakukan dan tim konservasi kini menangani Harimau Sumatera tersebut.
Ferdian menjelaskan bahwa Manggala Agni bekerja terpadu dengan pihak terkait di beberapa titik Karhutla, termasuk Kabupaten Kampar, Bengkalis, Indragiri Hilir, Pelalawan, dan Kota Batam, dengan titik kebakaran tersebar di Desa Rimbo Panjang, Desa Sukarjo Mesim, Desa Teluk Lecah, Desa Tanjung Leban, Desa Tanjung Pidada, Desa Pulau Muda, hingga Kelurahan Rempang Cate.
Analisis citra satelit Kemenhut menunjukkan luas Karhutla di Riau Januari–Februari 2026 mencapai 4.400 hektare, 94 persen di antaranya lahan gambut.
Ferdian menekankan fokus pemadaman di Pelalawan dan Bengkalis, serta kerja intensif seluruh tim untuk mencegah perluasan karhutla.
"Seluruh tim di lapangan terus bekerja secara intensif untuk mengendalikan situasi serta mencegah potensi perluasan Karhutla. Upaya pemadaman dan pencegahan terus dilakukan secara terpadu bersama para pihak,” katanya.
BMKG memperingatkan musim kemarau Sumatera akan dimulai bertahap pada Mei dan meluas ke sebagian besar wilayah pada Juni.
Prediksi El Nino yang semula muncul 2027 diperkirakan maju ke semester II 2026, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan kekeringan. Puncak kemarau diperkirakan Juli–Agustus di sebagian besar Sumatera bagian tengah dan selatan.
.png)
2 hours ago
1
















































