Menanam Toleransi di Jiwa Generasi Alpha

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di sebuah ruang kelas di Sekolah HighScope Indonesia TB. Simatupang, Jakarta Selatan, puluhan anak duduk melingkar. Mereka berasal dari latar belakang agama yang berbeda. Ada yang berjilab, ada pula yang tidak. Namun di wajah mereka terpancar kesamaan: rasa ingin tahu yang besar tentang dunia di luar lingkungan mereka.

Di luar jendela, dunia sedang tidak baik-baik saja. Laporan Risiko Global 2026 menempatkan konfrontasi geoekonomi sebagai salah satu ancaman utama. Data UNESCO menyebut dua dari tiga orang di dunia kini terpapar ujaran kebencian di ruang digital. Polarisasi ideologi, sengketa wilayah, dan kesenjangan teknologi memicu sentimen eksklusivitas yang merambat hingga ke akar rumput.

Namun di ruang kelas itu, untuk sementara, dunia yang riuh itu terasa jauh. Yang ada hanya tawa, diskusi hangat, dan sesi berbagi cerita antarteman berbeda keyakinan.

Mereka adalah bagian dari Generasi Alpha, generasi yang lahir dan tumbuh di era dominasi teknologi. Generasi yang jika tak dibekali fondasi etika yang kuat, dapat dengan mudah terpapar polarisasi dan ujaran kebencian. Karenanya, menanamkan nilai-nilai toleransi sejak dini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk membangun "imunitas sosial" bagi mereka.

Sejak 2004, Sekolah HighScope Indonesia, yang akan berganti nama menjadi Sekolah Eco Socio Tech pada Juli 2026, secara konsisten menyelenggarakan program PTR (Peace, Tolerance, Respect) setiap bulan Ramadhan. Program ini merangkul keberagaman dan melibatkan seluruh siswa, baik Muslim maupun pemeluk agama Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha.

"Kami percaya bahwa pendidikan terbaik adalah yang mensimulasikan kehidupan nyata," ujar perwakilan Redea Institute, Research & Development for Advancement Institute yang menaungi program ini.

Tahun ini, PTR mengusung tema "Membangun Sikap Menghormati Sesama Manusia dan Makhluk Hidup untuk Menciptakan Kehidupan yang Damai dan Berkelanjutan." Tema yang dipilih untuk menginspirasi siswa agar menerapkan sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.

Implementasinya terbagi menjadi dua rangkaian acara. Dalam sesi lintas agama, siswa dipertemukan untuk menggali nilai-nilai universal yang menjadi benang merah seluruh keyakinan, seperti manifestasi ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui penghormatan terhadap harkat sesama makhluk hidup. Setelahnya, mereka beralih ke sesi agama masing-masing untuk penguatan spiritual yang lebih spesifik.

Di Sekolah HighScope Indonesia TB. Simatupang, kegiatan dibuka dengan sesi Opening, Hopes & Dreams, dan Ice Breaking. Kemudian dilanjutkan dengan talkshow bersama para narasumber: Rizkiana Alba M.Ed dari Wahid Foundation, KH. Julian Lukman Lc selaku Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Jakarta Selatan, dan Suraji dari Jaringan Gusdurian. Hadir pula Linda Anugrah, Founder Yayasan Angel Heart dari Sekolah HighScope Indonesia Denpasar, serta Wakil Ketua Baznas Kota Palembang, Muhammad Syukri Soha, S.Ag, S.H, M.H dari Sekolah HighScope Indonesia Palembang.

Sementara saat siswa Muslim melaksanakan ibadah salat Isya dan Tarawih berjamaah, siswa beragama Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha mengikuti sesi pendalaman iman di ruang terpisah bersama pemuka agama masing-masing. Diskusi difokuskan pada pengamalan nilai keimanan dalam tindakan nyata, terutama dalam merawat semangat toleransi di tengah kompleksitas interaksi digital saat ini.

PTR juga menjadi kesempatan bagi para siswa untuk berbagi dengan komunitas di sekitar sekolah. Di Sekolah HighScope Indonesia Medan dan Denpasar, siswa kelas 4 hingga 9 bekerja sama mempersiapkan takjil dan membagikannya kepada warga sekitar. Sambil menunggu waktu berbuka puasa, para siswa Sekolah HighScope Indonesia Palembang menampilkan berbagai kegiatan, seperti pertunjukan musik oleh band, pantun toleransi, serta storytelling yang menyampaikan pesan-pesan kebaikan.

sumber : Antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |