Warga terdampak bencana banjir bandang beriktikaf di Masjid Darurat Al-Muhsinin, Desa Tetingi, Pantan Cuaca, Gayo Lues, Aceh, Senin (16/3/2026). Iktikaf tersebut dilaksanakan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan guna mendapatkan malam Lailatul Qadar yang penuh berkah.
REPUBLIKA.CO.ID, Sali mengambil tempat paling depan untuk memimpin pengajian. Suaranya tenang mengalun melalui pengeras suara dengan echo yang sengaja diperkuat, menghadirkan nuansa yang mengingatkan pada lantunan imam di Masjidil Haram, Makkah. Dari ruang sederhana itu, ia memandu jamaah memasuki malam dengan khusyuk.
Rutinitas itu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Sali, imam masjid, sekaligus tokoh masyarakat yang dituakan di Desa Tetingi, Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Malam itu, udara pegunungan terasa kian dingin, menyusup di sela dinding papan masjid darurat yang berdiri di tengah permukiman warga.
Dari dalam bangunan tersebut, lelaki berusia 62 tahun itu melantunkan ayat-ayat suci Alquran sepanjang malam, selama Ramadhan. Suaranya berpadu dengan deru arus sungai, aliran yang tak pernah benar-benar lepas dari ingatan warga sejak banjir bandang melanda desa pada 26 November 2025.
Ingatan itu membawa Sali pada masa beberapa bulan sebelumnya, ketika ia masih berdiri di Masjid Al-Muhsinin yang kokoh dan luas. Masjid itu menjadi pusat kehidupan warga, tempat ibadah, sekaligus ruang pertemuan sosial. Hanya saja, dalam satu malam, bangunan tersebut hilang tersapu arus deras dari hulu pegunungan bersama puluhan rumah warga.
Peristiwa itu meninggalkan luka yang dalam, tetapi tidak memberi ruang bagi Sali untuk berlama-lama larut dalam kesedihan. Sehari, setelah bencana, ia bersama warga mulai kembali mengumandangkan azan dari bangunan seadanya. Dari bale sederhana, hingga akhirnya berdiri masjid darurat, ia memastikan ibadah tetap berjalan.
sumber : Antara
.png)
7 hours ago
4














































