Kuliah Umum di Unjani, Luhut Bahas Kecerdikan Iran Manfaatkan Teknologi dalam Perang

2 hours ago 1

Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menjadi pembicara dalam kuliah umum yang menghadirkann puluhan ribu mahasiswa Unjani, Cimahi, Rabu (11/3/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, CIMAHI - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menjadi pembicara dalam Kuliah Umum di Auditorium Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Cimahi, Jawa Barat, Rabu (11/3/2026).

Dalam kuliah umum yang dihadiri 25.637 mahasiswa dan 1.090 tenaga pendidik Unjani Cimahi bertemakan 'Optimalisasi Peran dan Karakter Mahasiswa dalam Memanfaatkan Bonus Demografi Guna Mewujudkan Indonesia Ema 2045', Luhut mengupas soal pecahnya konflik antara Amerika dengan sekutunya, Israel menghadapi Iran.

Luhut mengatakan kondisi global saat ini berdampak besar terhadap perekonomian dunia yang menghadapi ketidakpastian tertinggi sepanjang sejarah. Situasi tersebut dipicu oleh rangkaian konflik geopolitik, mulai dari perang Rusia–Ukraina, meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan khusus AS, hingga pecahnya konflik antara Amerika Serikat–Israel dengan Iran.

"Point saya, uncertainty (ketidakpastian) ini masih tinggi. Oleh karena itu kita di dalam negeri harus kompak juga menghadapi ini karena semua dunia menghadapi masalah ini," kata Luhut di Unjani Cimahi, Rabu (11/3/2026).

Luhut menyinggung jika pecahnya konflik di banyak negara saat ini kebanyakan melibatkan negara maju. Ia dengan lantang mencontohkan bagaimana Amerika dan Inggris memicu konflik di sebuah negara dengan kesewenang-wenangannya.

"Tapi kalau jujur, kalian belajar sejarah sebenarnya yang menjadi malapetaka (perang) ini semua dalangnya adalah negara-negara maju. Anda lihat betapa Inggris yang menjajah lalu memecah Palestina dengan Israel. Anda lihat Amerika, negara-negara barat setelah Perang Dunia Kedua, Arab Saudi dipecah dengan Abu Dhabi, dengan Dubai, dengan semua," kata Luhut.

Belum lagi ketidaksukaan negara maju ketika negara-negara yang dijajah mendeklarasikan kemerdekaan. Seperti Indonesia di tahun 1945 yang kemudian memicu gerakan kemerdekaan dari negara jajahan lainnya.

"Jadi Indonesia ini sebagai katakanlah penyatu Asia-Afrika waktu itu dianggap kita salah, bahwa kita mendorong kemerdekaan negara-negara berkembang. Sekarang mereka ingin lagi melakukan kolonisasi atau penjajahan lagi dalam bentuk yang beda," kata Luhut.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |