REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI--Komposer musik film legendaris AR Rahman tengah menjadi sorotan setelah komentarnya yang memicu perdebatan tentang industri film di India pada Kamis (15/1/2026). Di mana dia mengkritisi sistem perfileman India saat ini yang menyebabkannya jarang terlibat dalam industri perfileman India.
Alih-alih menjawab kritikannya soal film, Juru Bicara organisasi Hindu di India yakni Vishva Hindu Parisad (VHP), Vinod Bansal, malah menyuruh Rahman kembali memeluk Hindu.
Menurut Vinod Bansal, kritikan Rahman tidak menunjukkan rasa terima kasih kepada industri yang telah membesarkan namanya. Bansal juga melontarkan komentar bernada ejekan dengan meminta Rahman kembali memeluk Hindu.
“Alih-alih introspeksi diri mengapa dia tidak mendapatkan pekerjaan, dia malah menjelek-jelekkan sistem dan mencemarkan nama seluruh industri (film),” kata Bansal dalam sebuah video.
“Apa yang ingin dia buktikan? Dia dulu seorang Hindu. Mengapa dia masuk Islam? Lakukan ‘ghar wapasi’ (Istilah untuk kembali masuk Hindu) sekarang. Mungkin setelah itu kamu akan mulai mendapatkan pekerjaan lagi. Pernyataan sekecil dan serendah ini bisa dibuat oleh seorang politisi, tapi tidak pantas bagi seorang seniman," kata Bansal.
Sebagai informasi, nama asli Rahman adalah AS Dileep Kumar. Dia masuk Islam pada 1989 bersama seluruh keluarganya setelah dilaporkan terpengaruh oleh seorang pegiat sufi.
Setelah berpindah agama, terjadi pula perubahan nama dari AS Dileep Kumar menjadi Allah Rakha Rahman, atau AR Rahman seperti yang kita kenal sekarang.
Komentar Rahman tentang Bollywood (industri perfileman India) sebenarnya tidak sepenuhnya bersifat kritik.
Ia justru memuji industri tersebut karena telah menerimanya dengan sepenuh hati pada era 1980-an, 1990-an, dan 2000-an. Ia hanya menyampaikan pandangannya terkait situasi politik sejak 2017–2018.
Meski dapat dianggap sebagai pendapat subjektif, pernyataan Rahman jelas telah mengusik dan memancing reaksi publik serta kalangan politikus.
“Mungkin saya tidak mengetahui semua hal ini. Mungkin Tuhan menutupi semua ini. Tapi bagi saya, saya tidak pernah merasakan hal-hal seperti itu. Namun dalam delapan tahun terakhir, mungkin karena telah terjadi pergeseran kekuasaan,” ujar Rahman.
“Orang-orang yang tidak kreatif kini memiliki kekuasaan untuk menentukan banyak hal, dan ini mungkin juga bersifat komunal," kata Rahman.
Sumber:
.png)
1 day ago
4












































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5356582/original/040605300_1758465597-20250921AA_Futsal_Four_Nation_Indonesia_Vs_Latvia-12.JPG)
