Dubes Iran Tegaskan Selat Hormuz Tidak Ditutup, Hanya Terapkan Protokol Perang

1 hour ago 3

Kapal kontainer ditambatkan di Pelabuhan Cape Town, Afrika Selatan, 2 Maret 2026. Sejumlah perusahaan mengalihkan jalur pelayaran akibat ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi mengatakan bahwa publik yang mengkhawatirkan penutupan Selat Hormuz harus bertanya kepada Amerika Serikat yang mengganggu keamanan di perairan tersebut.

“Yang khawatir berkaitan dengan penutupan Selat Hormuz harus menanyakan kepada Amerika Serikat yang datang dari jauh ke kawasan Timur Tengah kemudian mengganggu keamanan di Selat Hormuz,” kata Dubes Boroujerdi kepada media saat ditemui di kediamannya di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Dubes Boroujerdi menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka, dan Iran hanya memberlakukan protokol lalu lintas khusus untuk saat-saat perang demi menjaga keamanan.

Dia juga menggarisbawahi bahwa Selat Hormuz tetap dapat dilalui oleh pihak-pihak yang mematuhi protokol yang diterapkan Iran dalam kondisi perang tersebut.

"Selat Hormuz tidak ditutup. Selat Hormuz tetap terbuka. Dan kami hanya sebagai pihak yang menyelenggarakan keamanan. Di selat ini hanya diberlakukan protokol lalu lintas khusus untuk saat-saat perang. Pihak-pihak yang mematuhi protokol tersebut dapat dengan mudah melewati Selat Hormuz," katanya menegaskan.

Diplomat itu menambahkan bahwa Selat Hormuz merupakan tempat di mana Iran menjaga keamanan sejak ratusan tahun yang lalu. Iran, lanjutnya, menjaga keamanan selat demi keamanan di seluruh negara, termasuk Iran itu sendiri, sembari memastikan bahwa tidak boleh ada negara yang memanfaatkan keamanan di selat tersebut.

Terletak di antara Teluk Persia dan Teluk Oman, Selat Hormuz berfungsi sebagai satu-satunya jalur laut dari Teluk Persia ke laut lepas, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu titik paling vital secara strategis di dunia. Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melewati selat tersebut.

Media Iran melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran telah menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal, dengan menyatakan bahwa jalur air vital untuk minyak dan gas tersebut tidak aman akibat serangan AS dan Israel.

Sejak selat itu ditutup, harga minyak di pasar Asia naik sekitar 13 persen menjadi 80 dolar AS per barel dan berpotensi menembus 100 dolar AS jika penutupan berlangsung lama.

Adapun penutupan lalu lintas di Selat Hormuz turut berdampak pada dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang hingga kini masih berada di area teluk.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |