REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komite Olimpiade Indonesia (KOI)/NOC Indonesia memutuskan menggeser jadwal kongres pemilihan ketua umum organisasi agar selaras dengan siklus penyelenggaraan Olimpiade. Keputusan tersebut diambil melalui Rapat Anggota Luar Biasa (RALB) KOI 2026 yang digelar di Jakarta, Senin (20/7/2026).
Dengan keputusan itu, kongres yang semula dijadwalkan berlangsung pada 2027 akan dilaksanakan pada Maret 2029, setelah berakhirnya Olimpiade Los Angeles 2028.
Sekretaris Jenderal KOI Wijaya Noeradi menjelaskan, Anggaran Rumah Tangga (ART) KOI sebenarnya hanya mengatur kemungkinan penundaan kongres selama satu tahun. Namun, Rapat Anggota memandang perlu adanya pengecualian agar masa kepengurusan dapat mengikuti siklus Olimpiade yang berlangsung setiap empat tahun.
"Jadi dasar kenapa ditunda itu karena memang kelaziman kita harus mengikuti siklus Olimpiade," kata Wijaya kepada awak media usai rapat.
Menurut Wijaya, penyelarasan tersebut sejalan dengan praktik yang lazim diterapkan dalam gerakan Olimpiade internasional. Banyak organisasi olahraga dunia maupun federasi nasional menggelar pemilihan kepengurusan setelah Olimpiade agar pengurus baru dapat langsung menyusun program pembinaan menuju siklus Olimpiade berikutnya.
Ia mencontohkan Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang menggelar pemilihan presiden baru setelah Olimpiade Paris 2024, yakni pada 2025. Pola serupa juga diterapkan oleh berbagai federasi olahraga internasional.
Selain mengikuti tata kelola internasional, perubahan jadwal itu juga bertujuan menjaga fokus organisasi dalam mempersiapkan kontingen Indonesia menuju Olimpiade Los Angeles 2028.
Wijaya menilai, jika proses pemilihan kepengurusan dilakukan menjelang Olimpiade, masa transisi kepemimpinan berpotensi mengganggu konsentrasi organisasi dalam menyiapkan atlet.
"Nah, ini supaya mengatur siklus Olimpiade itu. Khawatirnya kalau tanggung itu akan mengganggu persiapan keikutsertaan di Olimpiade," ujarnya.
Sebelum keputusan diambil, KOI juga telah berkonsultasi dengan IOC. Menurut Wijaya, IOC mengapresiasi langkah KOI yang berupaya menyelaraskan tata kelola organisasi dengan siklus Olimpiade, meski perubahan tersebut belum menyentuh Anggaran Dasar organisasi.
Ia menegaskan, pengecualian terhadap ketentuan dalam ART tersebut sah karena diputuskan melalui Rapat Anggota yang merupakan pemegang otoritas tertinggi di lingkungan KOI. Dengan demikian, kepengurusan KOI diharapkan dapat bekerja lebih optimal dalam satu siklus penuh menuju dan setelah Olimpiade.
sumber : Antara
.png)
22 hours ago
5














































