Berkaca dari Kasus Penyekapan di Bandung : 5 Solusi Pendidikan Karakter Anak

8 hours ago 4

Image Dr. Ir. Hamry Gusman Zakaria, M.M

Pendidikan dan Literasi | 2026-07-21 13:02:07

Ilustrasi (Dok. Pribadi/canva)

Kasus penyekapan dan penyiksaan terhadap seorang perempuan, berinisial YTR (29) di Bandung pada Juni 2026 mengundang keprihatinan sekaligus kemarahan publik. Di balik tindakan brutal tersebut, muncul pengakuan dari keluarga pelaku TH bahwa sejak kecil ia hampir tidak pernah ditegur ataupun diberi batasan karena dianggap sebagai anak laki-laki yang paling tampan di keluarganya. Pernyataan ini tentu bukan bukti bahwa pola asuh menjadi satu-satunya penyebab tindak kekerasan, tetapi menjadi pintu masuk untuk membahas bagaimana pengasuhan yang kehilangan keseimbangan antara kasih sayang dan disiplin dapat meningkatkan risiko terbentuknya karakter yang bermasalah di kemudian hari.

Ketika Anak Tidak Pernah Mendengar Kata "Tidak" 

Pelaku diduga menunjukkan perilaku kekerasan yang berlangsung dalam waktu lama. Keterangan keluarga kepada penyidik (27/06/2026), mengungkap bahwa sejak kecil ia jarang menerima teguran ataupun konsekuensi atas kesalahan yang dilakukan. Menurut keterangan ayah pelaku, alasan tersebut didasarkan pada anggapan bahwa pelaku merupakan anak laki-laki yang paling tampan di antara saudara-saudaranya. Pengakuan tersebut memang tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan penyebab utama tindak kriminal yang dilakukan, namun memberikan gambaran mengenai pentingnya pola pengasuhan dalam membentuk karakter seseorang.

Dugaan perilaku kekerasan tersebut juga bukan muncul untuk pertama kalinya. Susi, mantan istri pelaku, mengungkapkan bahwa ia pernah menikah dengan pelaku pada tahun 2015. Namun, rumah tangga tersebut hanya bertahan selama dua minggu karena ia mengaku mengalami kekerasan yang dilakukan pelaku.

Berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa pola asuh yang terlalu permisif atau over indulgent parenting dapat meningkatkan risiko berkembangnya rasa entitlement, yaitu keyakinan bahwa seseorang selalu berhak memperoleh apa yang diinginkan tanpa mempertimbangkan hak orang lain. Dalam kondisi tertentu, terutama apabila disertai faktor kepribadian, lingkungan, serta lemahnya kontrol diri, karakter tersebut dapat berkembang menjadi perilaku posesif, manipulatif, bahkan agresif ketika menghadapi penolakan atau frustrasi.

Kasus-Kasus Serupa: Sisi Gelap Pola Asuh Ekstrem

Fenomena kekerasan yang lahir dari kegagalan pola asuh di masa kecil bukanlah hal baru. Berdasarkan data SIMFONI PPA, sepanjang tahun 2025 terdapat 35.025 korban kekerasan terhadap perempuan dan anak. Angka tersebut menunjukkan bahwa kasus di Bandung bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari persoalan sosial yang lebih luas.

Di Indonesia, kasus Mario Dandy pada 2023 kembali memunculkan diskusi publik mengenai pentingnya empati, disiplin, dan tanggung jawab dalam keluarga. Meski tidak dapat disimpulkan bahwa pola asuh merupakan penyebab utama, kasus tersebut mengingatkan bahwa pembentukan karakter sejak dini merupakan fondasi penting dalam mencegah perilaku kekerasan.

Kasus Ethan Couch di Amerika Serikat pada 2013 sering menjadi rujukan dalam diskusi mengenai dampak pola pengasuhan yang kehilangan batas. Ethan, yang saat itu berusia 16 tahun, menyebabkan kecelakaan akibat mengemudi dalam keadaan mabuk hingga menewaskan empat orang. Dalam persidangan, tim pembela menghadirkan psikolog yang menggunakan istilah affluenza untuk menjelaskan pola pengasuhan Ethan, yang terlalu memanjakan sehingga Ethan tumbuh tanpa memahami batasan maupun konsekuensi atas tindakannya. Meskipun istilah affluenza tidak diakui sebagai diagnosis medis ataupun psikologis, kasus tersebut memicu perdebatan internasional mengenai pentingnya orang tua menanamkan disiplin, tanggung jawab, dan batasan yang sehat sejak dini.

Di sisi ekstrem yang berbeda, anak yang kurang mendapat perhatian juga memiliki risiko yang sama besarnya untuk menjadi pelaku kekerasan saat dewasa. Banyak pelaku kekerasan jalanan atau geng motor dan tawuran yang berasal dari keluarga broken home atau ditelantarkan secara emosional. Absennya kehadiran orang tua membuat mereka mencari validasi di luar rumah melalui tindakan-tindakan destruktif demi mendapatkan perhatian yang gagal mereka dapatkan di masa kecil.

Fenomena tersebut sejalan dengan berbagai temuan penelitian. Menurut kajian literatur yang dilakukan oleh Wangsa dan Tobing (2024), perilaku agresif pada remaja dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal, di mana pola asuh, kurangnya pengawasan orang tua, serta lingkungan keluarga menjadi faktor yang paling konsisten ditemukan dalam berbagai penelitian di Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa perilaku kekerasan merupakan hasil interaksi yang kompleks antara faktor individu, keluarga, lingkungan sosial, dan budaya.

Rapuhnya Benteng Karakter

Psikolog perkembangan Diana Baumrind (1966) menjelaskan bahwa pola asuh yang paling sehat adalah authoritative, yaitu kombinasi antara kehangatan emosional dan ketegasan dalam menetapkan aturan. Pola asuh ini mampu membentuk kemampuan regulasi diri, empati, serta tanggung jawab pada anak. Sebaliknya, pola asuh yang terlalu permisif dapat membuat anak kurang belajar menerima penolakan, mengendalikan frustasi, dan menghormati aturan. Teori Social Learning dari Albert Bandura (1977) juga menjelaskan bahwa perilaku agresif dapat dipelajari melalui pengamatan terhadap kekerasan, manipulasi, atau pembiaran di lingkungan sekitar. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa perilaku kekerasan tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang melalui interaksi berbagai faktor biologis, psikologis, keluarga, dan lingkungan.

Sementara itu, teori Attachment dari John Bowlby (1988) menekankan pentingnya kedekatan emosional antara anak dan pengasuh utama. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang mengalami pengabaian emosional memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah perilaku, penyalahgunaan zat, hingga tindakan antisosial saat dewasa, meski risiko tersebut tetap dapat ditekan melalui pendidikan karakter, lingkungan yang positif, dan intervensi sejak dini.

Ketika anak tidak pernah mendengar kata "tidak" di masa kecilnya, otak mereka gagal mengembangkan kemampuan regulasi emosi. Saat dewasa dan menghadapi penolakan dari lingkungan atau pasangan, mereka akan meresponnya dengan agresi dan kekerasan.

Lima Solusi Pendidikan Karakter Anak Agar Terhindar dari Perilaku Negatif

Berbagai kajian psikologi perkembangan menunjukkan bahwa penanaman karakter di 7 tahun pertama usia anak (golden age) adalah pondasi utama. Tanpa adanya pendidikan karakter, anak akan mengalami kematangan emosi yang terhambat. Mari kita ulas lima solusi pendidikan karakter anak agar terhindar dari perilaku negatif.

1. Memperkuat Pendidikan Karakter Sejak Usia Dini

Profesor Urie Bronfenbrenner, melalui Ecological Systems Theory (1979), menjelaskan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh seluruh lingkungan yang mengitarinya, mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat. Dengan demikian, pembentukan karakter tidak dapat dibebankan hanya kepada salah satu pihak.

Kasus Bandung menunjukkan pentingnya membangun ekosistem pendidikan karakter yang melibatkan berbagai stakeholder. Salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah model Sekolah Laboratorium Pancasila (SLP), yang dikembangkan sebagai ekosistem pendidikan karakter kebangsaan melalui kolaborasi keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha. Dalam model ini, pendidikan karakter tidak dipahami sebagai mata pelajaran yang diajarkan beberapa jam di kelas, melainkan sebagai budaya yang dibangun secara konsisten melalui pembiasaan, keteladanan, keterlibatan keluarga, serta partisipasi aktif masyarakat. Pendekatan seperti ini menjadi penting karena berbagai penelitian menunjukkan bahwa karakter anak berkembang lebih kuat ketika pesan-pesan pendidikan diterima secara konsisten di seluruh lingkungan kehidupannya.

2. Menerapkan Pola Asuh yang Hangat dan Tegas

Sebagaimana disampaikan psikolog perkembangan Prof. Diana Baumrind sebelumnya yang menunjukkan bahwa pola asuh yang hangat namun tetap memberikan batas dan aturan yang konsisten (authoritative parenting) merupakan pendekatan yang paling efektif dalam membangun kemandirian, pengendalian diri, dan tanggung jawab anak.

Kasus Bandung menjadi pengingat bahwa kasih sayang tanpa batas yang sehat dapat menghambat perkembangan emosi dan kemampuan anak menghadapi realitas. Karena itu, orang tua perlu menyeimbangkan kasih sayang dengan disiplin, konsekuensi, dan ruang bagi anak untuk belajar bertanggung jawab.

3.Memberikan Pendidikan Seksualitas yang Sesuai Usia

Profesor Debra Haffner, pendidik kesehatan seksual dan mantan Presiden Sexuality Information and Education Council of the United States (SIECUS), menegaskan bahwa pendidikan seksualitas yang komprehensif dan sesuai dengan tahap perkembangan anak bukan mendorong perilaku seksual, melainkan membangun kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab, menghormati batas diri dan orang lain, serta mencegah kekerasan seksual. Karena itu, pendidikan seksualitas perlu diberikan secara bertahap sesuai usia, mencakup pemahaman tentang bagian tubuh, privasi, persetujuan (consent), relasi yang sehat, serta penghormatan terhadap martabat setiap orang. Pengetahuan tersebut menjadi bekal penting agar anak tidak hanya mampu melindungi dirinya dari kekerasan seksual, tetapi juga tumbuh dengan kesadaran untuk tidak melakukan tindakan yang melanggar hak dan integritas tubuh orang lain.

4. Membangun Ekosistem Pengawasan dan Keteladanan

Sosiolog Prof. Robert J. Sampson menjelaskan bahwa lingkungan yang memiliki kepedulian sosial (collective efficacy) mampu mencegah berbagai bentuk kekerasan karena warganya saling mengawasi, saling percaya, dan berani bertindak ketika melihat penyimpangan.

Kasus Bandung memperlihatkan pentingnya membangun budaya saling peduli di lingkungan tempat tinggal. Perlindungan anak tidak cukup mengandalkan keluarga dan aparat penegak hukum, tetapi juga memerlukan kepekaan masyarakat untuk mengenali tanda-tanda kekerasan dan berani melaporkannya.

5. Memperkuat Literasi Digital dan Pengendalian Paparan Pornografi

Pakar perkembangan anak Prof. Jack P. Shonkoff dari Harvard University menegaskan bahwa pengalaman buruk pada masa kanak-kanak (adverse childhood experiences) dapat mengganggu perkembangan otak, kesehatan mental, dan kualitas hidup hingga dewasa. Karena itu, pencegahan sejak dini jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah kerusakan terjadi.

Pelajaran dari kasus Bandung adalah perlindungan anak tidak boleh berhenti pada proses hukum terhadap pelaku. Yang lebih penting ialah membangun sistem pencegahan melalui pendidikan karakter, pengasuhan positif, layanan kesehatan mental, serta mekanisme deteksi dini yang melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Ketika Kasih Sayang Kehilangan Arah 

Kasus tragis di Bandung ini menjadi alarm keras bagi seluruh orang tua di Indonesia. Kasih sayang yang kehilangan batas dapat menjadi bumerang bagi perkembangan karakter anak. Memanjakan anak dengan membebaskannya dari aturan, apalagi hanya berdasarkan kelebihan fisik atau materi, bukanlah wujud kasih sayang. Tindakan tersebut justru merupakan bentuk penjerumusan masa depan anak.

Anak yang tidak pernah diajarkan arti kata "tidak" di rumah, akan dipaksa belajar dengan cara yang jauh lebih kejam oleh kehidupan di luar sana. Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Namun, kasih sayang yang tidak disertai batasan, tanggung jawab, dan keteladanan justru dapat menghambat perkembangan karakter yang sehat. Sebab pada akhirnya, keberhasilan mendidik anak bukan diukur dari seberapa banyak keinginannya dipenuhi, melainkan dari seberapa besar ia mampu menghargai sesama manusia, mengendalikan dirinya, dan menggunakan kebebasannya secara bertanggung jawab.

Sebagai materi akhir dari bahan refleksi pola asuh kita kepada anak, mari kita renungkan bersama pesan dari Mantan American First Lady, Jacqueline Lee "Jackie" Kennedy Onassis, yang dikenal luas karena kepeduliannya terhadap keluarga dan pendidikan anak:

"If you bungle raising your children, I don't think whatever else you do well matters very much."

"Jika Anda ceroboh dalam membesarkan anak-anak Anda, menurut saya apa pun keberhasilan lain yang Anda raih tidak akan terlalu berarti."

Sumber

Backhaus, S., Leijten, P., Gardner, F., et al. (2023). Effects over time of parenting interventions to reduce physical and emotional violence against children: A systematic review and meta-analysis. EClinicalMedicine.

Baumrind, D. (1966). Effects of authoritative parental control on child behavior. Child Development, 37(4), 887–907.

Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Prentice Hall.

Bowlby, J. (1988). A Secure Base: Parent-Child Attachment and Healthy Human Development. Basic Books.

Goagoses, N., et al. (2023). Parenting dimensions/styles and emotion dysregulation in childhood and adolescence: A systematic review and meta-analysis. Current Psychology.

Heckman, J.J. (2006). Skill Formation and the Economics of Investing in Disadvantaged Children. Science, 312(5782).

Sampson, R.J. (2012). Great American City: Chicago and the Enduring Neighborhood Effect. University of Chicago Press.

Shonkoff, J.P., Garner, A.S., et al. (2012). The Lifelong Effects of Early Childhood Adversity and Toxic Stress. Pediatrics, 129(1).

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |