REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Bagi banyak orang Indonesia, makan tanpa sambal terasa kurang lengkap. Dari kebiasaan sederhana itulah usaha sambal rumahan milik Sri Wahyuni tumbuh menjadi UMKM yang kini memproduksi ribuan botol sambal setiap bulan, bahkan menembus pasar luar negeri.
Sri Wahyuni, perempuan asal Surabaya, Jawa Timur, tidak pernah membayangkan usaha sambal yang ia rintis dari dapur rumah pada akhir 2017 berkembang seperti sekarang. Kala itu ia masih bekerja dan hanya memasak sambal untuk konsumsi pribadi saat bepergian.
“Waktu itu saya membawa bekal masakan dan sambal sendiri ketika perjalanan. Ternyata teman-teman banyak yang suka,” kata Sri kepada Republika, Ahad (15/3/2026).
Ide menjual Sambal Ning Niniek berawal dari pengalaman sederhana tersebut. Saat bepergian, ia membawa sambal racikannya sendiri yang ternyata sangat disukai teman-temannya, terutama yang lama tinggal di luar negeri.
Sambal buatan Sri menjadi pelengkap yang membuat makanan terasa lebih akrab di lidah. Banyak yang kemudian meminta dibuatkan lagi. Pesanan pun mulai berdatangan dari lingkaran pertemanan. Melihat respons itu, Sri mulai berpikir untuk mengemas sambalnya secara lebih serius agar bisa dipasarkan lebih luas.
“Awalnya hanya teman-teman saja yang pesan. Lama-lama saya berpikir, kenapa tidak dikemas lebih bagus supaya bisa dijual juga,” ujarnya.
Langkah pertama dimulai dengan produksi kecil-kecilan. Sri hanya membuat sekitar 50 botol sambal setiap kali produksi. Karena saat itu masih bekerja, proses memasak biasanya dilakukan pada akhir pekan.
“Dulu saya bikin 50 botol saja. Itu pun tidak setiap hari, biasanya Sabtu atau Ahad saat libur,” katanya.
Perjalanan membangun usaha sambal tersebut tidak selalu mulus. Sri mengaku sempat mengalami berbagai kesalahan di awal karena belum memahami manajemen usaha dan pengolahan pangan secara optimal. Beberapa produk bahkan sempat rusak.
“Karena waktu itu kami belum belajar tentang bisnis makanan, pernah juga ada produk yang berjamur atau rusak,” katanya.
Pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran penting. Ia mulai belajar mengenai teknik produksi, pengemasan, hingga strategi pemasaran yang lebih baik. Perlahan, usaha rumahan itu berkembang. Pesanan semakin banyak dan Sri mulai merekrut tetangganya untuk membantu produksi.
Awalnya hanya satu orang yang membantu. Namun seiring meningkatnya permintaan, jumlah pekerja terus bertambah. Kini usaha Sambal Ning Niniek melibatkan sekitar 11 hingga 12 pekerja, mulai dari bagian produksi, administrasi, pengiriman, hingga tenaga penjualan.
“Di bagian produksi ada lima orang, admin dua orang, SPG dua orang, dan bagian pengiriman juga ada,” kata Sri.
Produksi pun meningkat drastis. Jika dulu hanya puluhan botol, kini Sambal Ning Niniek mampu memproduksi sekitar 5.000 hingga 6.000 botol setiap bulan. Produk yang dihasilkan juga semakin beragam. Usaha ini tidak hanya memproduksi sambal, tetapi juga abon berbahan dasar ikan.
Produk pertama yang dibuat adalah abon cabai klotok, resep keluarga yang menjadi cikal bakal bisnis ini. “Ikan klotok ini ikan khas Jawa Timur yang biasanya diolah jadi sambal. Kami mencoba mengolahnya menjadi abon,” ujarnya.
Setelah produk awal tersebut diterima pasar, Sri mulai mengembangkan berbagai varian baru seperti sambal tuna asap, sambal cakalang, sambal teri, sambal udang, hingga sambal baby cumi. Sebagian resep berasal dari keluarga, namun banyak pula yang dikembangkan melalui eksperimen di dapur.
Untuk menjaga kualitas, Sri sangat memperhatikan bahan baku. Ikan yang digunakan tidak dibeli secara sembarangan dari pasar. Ia memilih bekerja sama langsung dengan nelayan di berbagai daerah di Indonesia. Ikan roa, misalnya, didatangkan dari Sulawesi. Baby cumi berasal dari Medan, tuna asap dari Malang Selatan, dan ikan klotok dari Lampung.
“Kami bahkan meminta dibuatkan khusus tanpa bahan pengawet seperti formalin,” katanya.
Untuk ikan klotok saja, pembelian minimal mencapai 200 kilogram setiap kali pemesanan. Proses produksi sambal juga membutuhkan waktu yang cukup panjang. Sambal yang baru dimasak harus didinginkan semalaman sebelum dikemas.
“Kalau sambal biasanya butuh dua hari sampai siap dikemas,” ujarnya.
Selain memperkuat produksi, Sri juga mulai memperluas pemasaran. Pada 2023 ia mengikuti program pembinaan UMKM yang diselenggarakan oleh PT Pertamina (Persero) melalui program UMK Academy. Melalui program tersebut, Sri mengikuti kelas Go Online yang membantunya memahami strategi pemasaran digital, mulai dari penggunaan Google Business, media sosial, hingga marketplace seperti Shopee. Pelatihan tersebut memberi dampak nyata terhadap penjualan daring usahanya.
“Sebelumnya penjualan di marketplace sekitar Rp8 juta per bulan. Setelah ikut pelatihan dan belajar beriklan, pernah sampai Rp50 juta,” ujarnya.
Saat ini rata-rata penjualan daring Sambal Ning Niniek berada di kisaran Rp27 juta hingga Rp30 juta per bulan. Jaringan pemasaran Sambal Ning Niniek pun semakin luas. Selain dijual di berbagai daerah di Indonesia, produk ini juga sampai ke luar negeri melalui reseller. Beberapa di antaranya berada di India, China, dan Taiwan.
Dalam satu kali pemesanan, reseller di luar negeri bahkan pernah memesan hingga 3.600 botol sambal. Namun di balik perkembangan tersebut, Sri juga menghadapi tantangan baru, terutama terkait pasokan bahan baku.
Cuaca ekstrem yang memengaruhi hasil tangkapan nelayan serta hasil pertanian membuat harga bahan baku sering tidak stabil. Selain itu, konflik geopolitik global juga berdampak pada ketersediaan ikan dan bahan kemasan impor.
“Botol yang kami gunakan bahan bakunya impor, jadi dalam satu minggu saja sudah dua kali mengalami kenaikan harga,” katanya.
Meski demikian, Sri tetap optimistis. Ia meyakini UMKM memiliki peran penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakat. Melalui usaha ini, ia berharap dapat membuka lebih banyak lapangan pekerjaan di lingkungan sekitarnya.
“Dengan membeli produk UMKM, masyarakat juga ikut membantu perekonomian warga di sekitar tempat produksi,” ujarnya.
Bagi Sri, perjalanan Sambal Ning Niniek bukan sekadar bisnis. Usaha ini menjadi cara sederhana untuk menjaga tradisi kuliner Indonesia sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar. Dari dapur rumah di Surabaya, sambal racikannya kini telah menempuh perjalanan jauh—bahkan hingga melintasi batas negara.
.png)
13 hours ago
7














































