REPUBLIKA.CO.ID, Terik matahari menyengat kala Nunung Sumarni (52 tahun) mengayunkan sabitnya di sawah yang berada di Desa Cangkorah, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Ia memilah padi mana yang sudah bisa dipanen.
Di tengah musim kemarau ini, petani asal Kampung Sapih Manggu, RT 01, RW 11, Desa Cangkorah itu harus berjuang lebih ekstra agar padi yang ditanamnya sekitar tiga bulan lalu tetap bisa dipanen. Sebab, sawahnya merupakan kawasan tadah hujan, lahan pertanian yang sumber air utamanya sangat bergantung pada curah hujan.
Tak ada aliran air dari irigasi sungai untuk menghidupi sawah milik Nunung dan petani lainnya. Sawahnya hanya akan bergelimang air ketika musim hujan, dan kekurangan air ketika dihadapkan pada ancaman kemarau panjang karena adanya fenomena El Nino. Ia pun khawatir padinya tidak terpanen semua. "Ini lagi panen, udah waktunya. Tapi kan musim kemarau ada yang udah matang, ada yang belum," tutur Nunung saat berbincang dengan Republika, Selasa (28/7/2026).
Di sawah seluas sekitar 2.000 meter persegi yang digarapnya, masih ada padi yang menghampar meski kemarau mengancam hasil panen. Ada yang memang sudah menguning siap dipanen, dan masih ada yang berwarna hijau. Di sekelilingnya, padi juga masih terlihat tumbuh, ada juga yang sudah dipanen dan hanya menyisakan jerami beralaskan tanah yang mulai mengering karena tidak ada air.
Petani yang padinya belum ditanam tentunya resah karena kemarau kali ini diperkirakan berlangsung lama. Namun, Nunung masih bisa bernapas lega lantaran padi yang ditanam di periode kedua tahun ini masih terselamatkan meskipun tidak ada hujan. Sebab, area pertanian miliknya masih basah dengan keberadaan perairan Waduk Saguling. "Sebetulnya cukup was-was karena cuaca. Ini juga bisa tumbuh sampai mau dipanen karena pakai selang, nyedot dari Waduk Saguling. Tapi sekarang udah mulai surut juga airnya," ujar Nunung.
Ia berharap panen di musim kemarau tahun ini hasilnya tetap memuaskan meskipun tidak teraliri irigasi maupun air hujan. Di sisi lain, air Waduk Saguling yang sangat diandalkan untuk sawah tadah hujan miliknya mulai surut. Jika sedang bagus, padi kering yang didapatnya dalam sekali musim panen bisa mencapai 6 kuintal. "Kalau lagi bagus bisa dapat 5-6 kuintal, tapi kalau lagi jelek paling 3-4 kuintal. Kalau harganya lagi bagus bisa dapat Rp 600 ribu per 1 kuintalnya," ucap Nunung.
Ia dan keluarganya begitu bergantung pada hasil pertanian untuk menopang kebutuhan dapurnya agar tetap ngebul. Selain untuk dimasak di rumah, hasil panennya itu biasanya juga dijual. "Uangnya buat jajan anak sekolah dan sebagainya," ujar Nunung.
Musim kemarau memang membawa tantangan bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada ketersediaan air. Di tengah ancaman berkurangnya debit sungai dan meningkatnya kebutuhan air, keberadaan bendungan dan waduk menjadi penyangga utama kehidupan, mulai dari mengairi sawah, menyediakan air bersih, hingga menopang usaha budidaya ikan.
Di Daerah Irigasi (DI) Colo Timur, Bendung Colo, Jawa Tengah bukan sekadar bangunan pengatur aliran sungai. Infrastruktur tersebut menjadi penopang produksi pangan ribuan hektare sawah yang tersebar di Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, hingga Ngawi.
Ketua Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air Daerah Irigasi Colo Timur, Sarjanto, mengatakan pengelolaan air tahun ini telah dipersiapkan sejak awal sehingga petani optimistis kebutuhan air masih dapat dipenuhi hingga akhir Masa Tanam (MT) III. “Alhamdulillah tahun ini sudah direncanakan dengan baik. Jadi meskipun ada El Nino, untuk suplai air di daerah irigasi Colo Timur insya Allah masih aman sampai MT III selesai,” kata Sarjanto saat ditemui Republika, Senin (27/7/2026).
Menurutnya, tantangan terbesar selama musim kemarau justru berasal dari cuaca yang semakin panas. Tingginya suhu menyebabkan kehilangan air di sepanjang saluran irigasi menjadi lebih besar dibanding biasanya. Ia menjelaskan, debit air yang dialirkan dari Bendung Colo harus dibagi ke empat kabupaten sehingga petugas irigasi harus bekerja lebih ekstra untuk memastikan distribusi tetap merata. “Air yang dialirkan sekitar 16 meter kubik per detik dan dibagi ke Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, sampai Ngawi. Karena hampir semuanya butuh air bersamaan, pembagiannya memang tidak mudah,” katanya.
Bagi Sarjanto, keberadaan Bendung Colo memiliki arti yang sangat penting bagi sektor pertanian. “Dam Colo ini ibarat urat nadi, jantungnya pertanian. Lebih dari 20 ribu hektare sawah bergantung pada bendungan ini. Karena itu pengelolaan, perawatan, sampai perencanaan alokasi air menjadi sangat penting,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi jika terjadi gangguan distribusi air, masyarakat juga mulai membangun embung sebagai tampungan cadangan. “Kami sudah membuat embung. Memang belum beroperasi maksimal, tapi sudah disetujui untuk dikeruk supaya kapasitas tampungnya lebih besar. Kalau ada masalah di saluran utama, air itu bisa dipakai untuk penyelamatan,” katanya.
Ia berharap pemerintah terus mempercepat rehabilitasi jaringan irigasi yang telah berusia tua. “Dari petani harapannya jaringan yang sekarang sudah tua bisa segera direhabilitasi. Program pemerintah sudah ada, tetapi kami berharap perbaikannya bisa lebih menyeluruh,” ungkapnya.
Berbeda dengan wilayah yang menikmati pasokan irigasi dari Bendung Colo, sebagian petani di Kecamatan Selogiri, Wonogiri, masih bergantung pada tampungan air hujan. Ketika musim kemarau datang, sawah mereka lebih cepat mengalami kekeringan. Ibu Muki, salah seorang petani, mengaku hasil panennya mulai terdampak karena kekurangan air. “Ini panennya agak puso. Kurang air. Tambahnya ya dari sumur, nyedot sumur. Irigasinya kurang,” katanya saat ditemui di sawah di sela-sela panen, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, wilayahnya belum memperoleh pasokan air dari Waduk Gajah Mungkur karena kondisi lahan yang berada di dataran lebih tinggi. “Di sini cuma mengandalkan bendungan tadah hujan. Belum dari Gajah Mungkur. Katanya karena tempatnya lebih tinggi,” katanya.
Harapan terbesar petani, kata dia, adalah memperbesar kapasitas tampungan air di Waduk Krisak sehingga dapat menjadi cadangan saat musim kemarau. “Waduk Krisak itu sebaiknya dikeruk lumpurnya. Terus kalau bisa ada tambahan air dari Gajah Mungkur. Tapi memang kendalanya di sini tempatnya lebih tinggi,” katanya.
.png)
6 hours ago
5














































