Ketegangan Diplomatik antara Amerika Serikat, Denmark, dan Rusia atas Greenland

9 hours ago 2

Suasana di Greenland.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wacana mengenai upaya Amerika menganeksasi Greenland kembali memanas dan memicu kegaduhan diplomatik di panggung internasional. Ambisi ini bukan sekadar soal perluasan wilayah administratif, melainkan strategi besar Washington untuk mengamankan dominasi di kutub utara yang kian strategis.

Klaim sepihak Amerika yang memandang wilayah tersebut sebagai beban bagi Denmark namun aset vital bagi keamanan mereka, telah menciptakan keretakan hubungan dengan sekutu Eropanya sekaligus memancing reaksi keras dari kekuatan global lainnya yang juga memiliki kepentingan di Arktik.

Greenland adalah pulau terbesar di dunia yang terletak di antara Samudra Atlantik Utara dan Samudra Arktik. Meskipun secara geografis merupakan bagian dari benua Amerika Utara, secara politik dan budaya wilayah ini telah terikat dengan Eropa, khususnya Denmark, selama berabad-abad. Kekhasan utamanya terletak pada hamparan lapisan es raksasa yang menutupi sekitar 80% wilayahnya, serta kekayaan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari minyak, gas, hingga mineral langka yang sangat dibutuhkan untuk industri teknologi modern masa depan.

Ambisi Amerika Serikat untuk menguasai Greenland didorong oleh letak geopolitiknya yang krusial untuk mengontrol jalur navigasi di Arktik yang mulai terbuka akibat mencairnya es kutub. Dengan menguasai pulau ini, AS dapat memperkuat sistem peringatan dini rudal mereka dan membangun basis militer yang lebih dekat dengan kutub. Hal ini dipandang sangat mendesak bagi Washington di tengah meningkatnya aktivitas militer dan ekonomi negara-negara pesaing di wilayah tersebut yang dianggap sebagai ancaman keamanan nasional.

Jika aneksasi ini benar-benar terjadi, dampaknya terhadap Rusia dan negara-negara yang berseberangan dengan AS akan sangat transformatif dan konfrontatif. Rusia, yang memiliki garis pantai Arktik terpanjang, akan merasa terkepung oleh kekuatan militer Amerika yang lebih maju di utara, yang berpotensi memicu perlombaan senjata baru di kawasan kutub. Begitu pula dengan China yang mulai memproyeksikan diri sebagai "Negara Dekat-Arktik"; kontrol AS atas Greenland akan menutup ruang gerak ekonomi dan riset mereka di wilayah utara, memperuncing polarisasi global antara blok Barat dan Timur.

Tensi ini semakin memuncak setelah Wakil Kepala Staf Gedung Putih, Stephen Miller, secara terbuka menyebut Denmark sebagai "negara kecil" dengan ekonomi dan militer terbatas yang dianggap tidak mampu lagi mengendalikan Greenland. "Mereka ingin kita menghabiskan ratusan miliar dolar untuk mempertahankan wilayah yang 25% lebih besar dari Alaska, tetapi mereka mengeklaim wilayah itu 100% milik Denmark. Ini kesepakatan yang tidak adil bagi Amerika," tegas Miller kepada Fox News, sebagaimana diberitakan Sputnik Sabtu (17/1/2026).

sumber : Antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |