REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Iran sepenuhnya siap untuk perang berkepanjangan dan siap memperkenalkan persenjataan canggih yang belum pernah digunakan dalam konflik tersebut. Demikian disampaikan seorang juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Dalam sebuah pernyataan, Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini mengatakan musuh-musuh Iran akan dapat pukulan yang menyakitkan dalam gelombang serangan baru yang akan datang.
"Inisiatif dan senjata baru Iran sedang dalam perjalanan," katanya dilansir Aljazirah, Jumat (6/3/2026).
"Teknologi-teknologi ini belum dikerahkan dalam skala besar."
Naeini mengatakan bahwa Iran sekarang lebih siap dibandingkan dengan perang 12 hari tahun lalu yang dilancarkan oleh AS dan Israel. Ia menggambarkan konfrontasi militer yang sedang berlangsung sebagai "perang suci dan sah."
Sementara itu the Guardian melaporkan, milisi yang didukung Iran di sekitar Timur Tengah terus meningkatkan serangan terhadap Israel, AS, dan sekutu mereka. Serangan itu sebagai balasan atas operasi gabungan AS-Israel yang sedang berlangsung terhadap Teheran.
Perang tersebut melibatkan aktor bersenjata baru, yang mengancam kekacauan dan kekerasan yang lebih luas.
Israel dan AS telah menargetkan jaringan kelompok militan Iran, dengan Irak muncul sebagai front utama dalam konfrontasi baru ini.
Milisi di Irak telah melancarkan puluhan serangan sejak perang dimulai pada Sabtu, menargetkan Israel dan pangkalan AS di Yordania dan Irak sendiri.
Dalam beberapa hari terakhir, mereka juga menargetkan infrastruktur kelompok oposisi Kurdi-Iran yang berbasis di wilayah utara Irak yang didominasi Kurdi dan memiliki pemerintahan sendiri.
Israel dan AS berupaya melemahkan kemampuan milisi pro-Iran di Irak dengan serangan udara dan operasi pasukan khusus di darat. Demikian menurut para analis dan mantan pejabat intelijen regional yang berpengetahuan luas.
Sejak invasi yang dipimpin AS pada tahun 2003, Irak telah menjadi medan pertempuran proksi antara AS, sekutunya, dan Iran. Tetapi para pemimpin negara saat ini telah berupaya menghindari keterlibatan dalam konflik baru ini.
Milisi-milisi pro-Iran tersebut direkrut di antara komunitas Syiah mayoritas Irak, dan mengikuti perintah dari perwira senior dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Pada Selasa, sebagai tanda intensifikasi perang proksi di seluruh wilayah, para pejabat di Washington mengisyaratkan bahwa mereka sedang mempertimbangkan untuk memobilisasi Kurdi Iran. Namun sejumlah tokoh Kurdi menolak rencana tersebut.
.png)
8 hours ago
4
















































