Kekeringan Melanda 10 Desa di Enam Kecamatan di Purbalingga, Warga Butuh Air Bersih

22 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, PURBALINGGA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, mencatat sebanyak 10 desa di enam kecamatan telah terdampak kekeringan. Warga mulai membutuhkan bantuan pasokan air bersih pada musim kemarau.

"Enam kecamatan tersebut meliputi Karangreja, Karanganyar, Pengadegan, Kejobong, Kemangkon, dan Rembang," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga Revon Haprindiat di Purbalingga, Senin (20/7/2026).

Ia mengatakan, jumlah desa terdampak masih berpotensi bertambah seiring musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Menurut dia, sejumlah mata air di wilayah Purbalingga mulai mengalami penurunan debit sehingga pasokan air bersih di beberapa daerah ikut berkurang.

Selain dipengaruhi musim kemarau, terdapat jaringan air yang hingga kini belum pulih akibat kerusakan yang ditimbulkan bencana banjir bandang dan tanah longsor pada Januari 2026.

Ia mengatakan kondisi tersebut menyebabkan BPBD masih harus menyalurkan bantuan air bersih ke Desa Serang dan Desa Kutabawa karena jaringan air di kedua desa tersebut belum kembali normal.

"Untuk Desa Serang dan Kutabawa memang belum pulih sehingga kami masih melakukan dropping dari awal," katanya menegaskan.

Ia mengatakan, BPBD bekerja sama dengan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Perwira Purbalingga dalam penyediaan bantuan air bersih bagi masyarakat terdampak kekeringan. Hingga saat ini, kata dia, pasokan air dari Perumdam Tirta Perwira masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan penyaluran bantuan.

Pihaknya mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak selama musim kemarau dengan menghemat penggunaan air bersih, memanfaatkan air sesuai kebutuhan, serta menjaga sumber-sumber air agar ketersediaannya tetap terjaga bagi masyarakat hingga musim hujan tiba.

Selain menangani dampak kekeringan, kata dia, BPBD juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.

Ia mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta memastikan api benar-benar padam setelah digunakan, terutama saat beraktivitas di kawasan hutan maupun jalur pendakian.

"Jangan membuka lahan dengan cara membakar, jangan membuang puntung rokok sembarangan, dan pastikan api benar-benar padam apabila menggunakan api untuk keperluan pendakian," katanya.

Menurut dia, kawasan jalur pendakian menjadi salah satu lokasi yang rawan terjadi kebakaran hutan karena proses pemadaman cukup sulit akibat keterbatasan akses dan minimnya ketersediaan air di daerah pegunungan.

“Oleh karena itu, upaya pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk meminimalkan risiko karhutla selama musim kemarau,” kata Revon.

sumber : Antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |