Keluarga Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Daerah Khusus Jakarta (KAUMY DK Jakarta) menggelar Iftar Bareng dan Santunan Anak Yatim di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Ahad (8/3/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Eskalasi konflik di kawasan Asia Barat dinilai tidak hanya berpotensi menimbulkan krisis kemanusiaan, tetapi juga dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi global, termasuk perekonomian Indonesia. Karena itu, Keluarga Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Daerah Khusus Jakarta (KAUMY DK Jakarta) menyerukan pentingnya upaya perdamaian untuk meredakan konflik yang terjadi di kawasan tersebut.
Seruan tersebut disampaikan Ketua KAUMY DK Jakarta, Wahyu Sandya Yudha Pangestu, dalam kegiatan "Iftar Bareng dan Santunan Anak Yatim" yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, pada Ahad (8/3/2026).
Sandya mengatakan, konflik saat ini melibatkan sejumlah negara di Asia Barat, termasuk Iran yang diserang aliansi Amerika Serikat (AS) dan Israel sejak Februari 2026 hingga kini, serta nestapa berkepanjangan di Palestina. Semua itu berpotensi menimbulkan dampak luas, baik dari sisi kemanusiaan maupun perekonomian dunia.
Menurut dia, instabilitas di kawasan tersebut dapat mempengaruhi berbagai sektor strategis global, mulai dari perdagangan hingga energi. Kondisi ini pada akhirnya berpotensi memberikan dampak terhadap perekonomian banyak negara, termasuk Indonesia.
“Perdamaian harus selalu menjadi pilihan utama. Upaya meredakan konflik melalui dialog dan pendekatan kemanusiaan menjadi langkah penting untuk mencegah penderitaan yang lebih besar bagi masyarakat sipil,” ujar Sandya, dikutip Republika dari keterangan tertulis pada Selasa (10/3/2026).
Ia menambahkan, konflik bersenjata tidak hanya mempengaruhi stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi memperluas krisis kemanusiaan yang perlu menjadi perhatian masyarakat internasional.
.png)
2 hours ago
1
















































