REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (KAI) berencana membangun rumah vertikal di kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, dengan total 2.200 unit hunian. Proyek tersebut memanfaatkan lahan seluas 2,2 hektare untuk mendukung program pembangunan 3 juta rumah.
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengatakan, hunian tersebut akan dibangun dalam delapan tower yang tersebar di dua blok, yakni blok G dan blok F. Setiap tower direncanakan memiliki 12 lantai dengan dua tipe unit, yaitu tipe 45 dan tipe 52.
“Di Stasiun Manggarai, kami nanti akan membangun delapan tower dengan total unit adalah 2.200 unit,” kata Bobby dalam acara pencanangan pembangunan hunian di kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta, Senin (16/3/2026).
Bobby mengatakan, pembangunan hunian berbasis kawasan stasiun tersebut bertujuan menghadirkan ekosistem kota yang lebih terintegrasi dengan transportasi publik. Konsep tersebut diharapkan memudahkan mobilitas masyarakat perkotaan sekaligus mendekatkan tempat tinggal dengan pusat aktivitas.
“Waktu pekerjaannya akan segera kita mulai, sehingga di awal tahun 2027 kita sudah bisa melakukan penyerahan kunci dari unit-unit tersebut,” kata Bobby.
Bobby menjelaskan, Stasiun Manggarai merupakan salah satu simpul transportasi utama di Jakarta dengan lebih dari 770 perjalanan kereta setiap hari. Jumlah tersebut terdiri dari 638 perjalanan KRL dan sekitar 70 perjalanan commuter line Bandara Soekarno-Hatta.
Stasiun Manggarai juga akan terintegrasi dengan LRT Jakarta serta sistem transportasi Transjakarta melalui pengembangan integrasi antarmoda. Sepanjang 2025, tercatat sekitar 10,53 juta penumpang keluar masuk stasiun tersebut.
Sebagai stasiun transit, Manggarai melayani lebih dari 200 ribu penumpang yang melakukan perpindahan kereta setiap hari.
Selain di Manggarai, pencanangan pembangunan hunian juga dilakukan di tiga lokasi stasiun lainnya. Di Stasiun Kiaracondong Bandung akan dibangun 753 unit hunian di lahan seluas 7.600 meter persegi dengan dua tower.
Kemudian di kawasan stasiun dekat RSUP Dr. Kariadi Semarang akan dibangun 1.042 unit hunian di lahan seluas 1,2 hektare dengan dua tower setinggi 42 lantai. Sementara di kawasan Stasiun Gubeng Surabaya direncanakan pembangunan 1.489 unit hunian di lahan seluas 1,2 hektare dengan dua tower setinggi 52 lantai.
Bobby mengatakan, pengembangan hunian di kawasan stasiun merupakan upaya KAI memanfaatkan aset lahan untuk mendukung pembangunan kawasan berbasis transit oriented development (TOD). KAI tercatat memiliki sekitar 320 juta meter persegi lahan di berbagai wilayah Indonesia yang berpotensi dikembangkan.
“Pengembangan hunian di kawasan stasiun merupakan bagian dari dukungan KAI terhadap program 3 juta rumah,” kata Bobby.
Menurut Bobby, KAI memiliki potensi pembangunan sekitar 131.000 unit hunian berbasis kawasan stasiun di wilayah Jabodetabek. Hunian tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh tempat tinggal yang lebih dekat dengan transportasi publik sehingga mobilitas harian menjadi lebih efisien.
Pendanaan pembangunan rumah vertikal tersebut berasal dari beberapa sumber, antara lain pembiayaan internal KAI, pinjaman dalam negeri, serta dukungan dari BPI Danantara.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan pembangunan rumah vertikal di kawasan stasiun menjadi salah satu upaya memperluas akses hunian layak bagi masyarakat.
“Ini adalah bagian dari program pembangunan 3 juta rumah yang menjadi visi besar dari Bapak Presiden Prabowo Subianto untuk mengatasi permasalahan housing backlog dimana masyarakat Indonesia masih cukup banyak yang belum punya rumah sendiri,” kata AHY.
AHY mengatakan, pembangunan hunian vertikal juga diharapkan membantu masyarakat berpenghasilan rendah memperoleh akses perumahan yang lebih terjangkau di kawasan perkotaan. Selain itu, sektor pembangunan perumahan juga dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi karena melibatkan banyak sektor industri pendukung.
.png)
3 hours ago
4














































