Iran: Bangsa Persia yang Tidak Lupa Sejarah

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra 

Setiap kali dunia berbicara tentang Iran, pembicaraan itu hampir selalu dimulai dari politik modern: revolusi, program nuklir, sanksi ekonomi, atau konflik regional di Timur Tengah. Iran muncul dalam berita sebagai negara yang keras, penuh retorika, dan sering berada di tengah ketegangan geopolitik.

Namun semakin lama saya membaca sejarah negeri itu, semakin terasa bahwa memahami Iran hanya melalui peristiwa politik hari ini sering menghasilkan gambaran yang terlalu sempit.

Iran bukan hanya negara modern. Ia adalah kelanjutan dari sebuah peradaban tua yang pernah menjadi salah satu pusat dunia. Nama lamanya adalah Persia.

Berabad-abad sebelum banyak negara modern berdiri, wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Iran telah menjadi jantung salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah manusia. Pada abad keenam sebelum Masehi, kekaisaran Persia yang dipimpin oleh Cyrus Agung membentang dari Balkan hingga lembah Indus. Dalam dunia kuno, ruang politik sebesar itu hampir sulit dibayangkan.

Namun yang membuat Persia menarik bukan hanya luas wilayahnya. Banyak catatan sejarah menunjukkan bahwa kekaisaran ini juga mengembangkan sistem pemerintahan yang relatif maju untuk zamannya. Berbagai bangsa dengan bahasa dan agama berbeda hidup dalam satu struktur kekuasaan tanpa harus kehilangan identitas sepenuhnya.

Dalam dunia kuno yang keras, kemampuan mengelola keberagaman seperti itu bukan hal yang kecil. Sejarah tentu tidak berhenti di sana.

Kekaisaran Persia jatuh, bangkit kembali, dan berubah bentuk berkali-kali. Setelah penaklukan Alexander dari Makedonia, wilayah Persia kembali menemukan kekuatannya melalui kekaisaran Parthia dan kemudian Sassania.

Selama berabad-abad, Persia menjadi salah satu kekuatan besar yang berdiri berhadapan dengan Romawi di barat dan berbagai kekuatan Asia di timur.

Namun hal yang paling menarik dari sejarah Persia bukan hanya kekuatan militernya, melainkan daya tahannya sebagai peradaban. Wilayah ini mengalami invasi, pergantian dinasti, bahkan perubahan agama besar ketika Islam datang pada abad ketujuh. Tetapi identitas Persia tidak hilang begitu saja. Ia beradaptasi, menyerap unsur-unsur baru, dan tetap hidup dalam bahasa, sastra, dan ingatan kolektif bangsanya.

Jika kita membaca karya-karya penyair Persia seperti Ferdowsi atau Hafez, kita dapat merasakan bagaimana masa lalu yang jauh itu tetap hadir dalam imajinasi budaya Iran. Dalam syair-syair mereka, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Ia adalah bagian dari identitas.

Kesadaran sejarah seperti ini sering memengaruhi cara sebuah bangsa memandang dirinya dalam hubungan internasional. Bangsa yang memiliki ingatan peradaban yang panjang biasanya melihat dunia dengan perspektif waktu yang berbeda.

Konflik tidak selalu dipahami sebagai peristiwa sesaat. Ia sering dilihat sebagai bagian dari perjalanan sejarah yang lebih panjang.

Mungkin karena itulah Iran sering menunjukkan kesabaran strategis yang tidak selalu mudah dipahami oleh dunia luar. Dalam berbagai krisis internasional, negara ini sering bergerak dengan ritme yang lebih panjang daripada yang diharapkan banyak pihak.

Bagi bangsa yang telah melewati ribuan tahun sejarah—dari kekaisaran kuno hingga revolusi modern—waktu memiliki arti yang berbeda.

Ini tidak berarti bahwa semua keputusan politik Iran selalu benar atau bijaksana. Sejarah panjang tidak membuat sebuah negara kebal dari kesalahan.

Namun memahami latar belakang peradaban Iran membantu kita melihat bahwa kebijakan geopolitik negara itu sering lahir dari lebih dari sekadar kalkulasi militer atau ekonomi. Ia juga berkaitan dengan cara sebuah bangsa memahami martabatnya.

Dalam konflik yang berkaitan dengan Selat Hormuz, dimensi sejarah ini sering kali ikut hadir di balik layar.

Bagi Iran, jalur air di sekitar Teluk Persia bukan hanya jalur perdagangan energi dunia. Ia juga merupakan bagian dari ruang geopolitik yang telah lama berada dalam orbit sejarah Persia. Kesadaran semacam ini membuat banyak langkah Iran sering dipandang oleh dunia luar sebagai keras atau tidak mudah diprediksi.

Namun dari perspektif sejarah yang lebih panjang, tindakan-tindakan itu sering dipahami di dalam negeri sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan dan martabat nasional.

Karena itu, setiap kali dunia mencoba membaca langkah Iran dalam konflik geopolitik modern, mungkin ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Iran bukan hanya sebuah negara yang lahir dari revolusi pada abad ke-20. Ia adalah pewaris dari sebuah peradaban yang telah bertahan melalui berbagai zaman.

Dan bangsa yang memiliki ingatan sejarah sepanjang itu biasanya tidak mudah melihat dirinya sebagai sekadar pemain kecil dalam panggung dunia.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |