REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, bauksit untuk pertama kalinya menggeser nikel sebagai komoditas dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar di Indonesia pada triwulan II 2026. Pergeseran tersebut didorong meningkatnya pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit oleh investor dalam maupun luar negeri.
Realisasi investasi hilirisasi bauksit pada triwulan II 2026 mencapai Rp 40,1 triliun atau melonjak 193 persen dibandingkan triwulan I 2026 yang sebesar Rp 13,7 triliun. Capaian ini menempatkan bauksit di posisi teratas investasi hilirisasi nasional, melampaui nikel yang selama ini menjadi komoditas utama.
“Nah ini kalau kita lihat, biasanya itu nikel selalu di nomor satu. Nah ini ada shifting, bauksit menjadi nomor satu karena memang ada beberapa pembangunan smelter bauksit, baik yang dilakukan investor dalam negeri maupun luar negeri. Sehingga bauksit ini untuk pertama kali mengambil tempat nomor satu sesudah nikel,” kata Rosan di Jakarta, dikutip Senin (20/7/2026).
Menurut dia, perubahan komposisi investasi tersebut menunjukkan program hilirisasi nasional mulai berkembang lebih merata dan tidak lagi hanya bertumpu pada industri nikel. Selain menciptakan nilai tambah, peningkatan investasi juga memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja.
Secara keseluruhan, realisasi investasi hilirisasi pada triwulan II 2026 mencapai Rp 152,7 triliun atau meningkat 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai tersebut menyumbang 29,8 persen terhadap total realisasi investasi nasional yang mencapai Rp 511,8 triliun.
Berdasarkan komoditas, investasi hilirisasi bauksit menjadi yang terbesar dengan nilai Rp 40,1 triliun, disusul nikel sebesar Rp 29,4 triliun, tembaga Rp 16,7 triliun, besi dan baja Rp 13,2 triliun, pasir silika Rp 4 triliun, serta komoditas lainnya seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal Buton, dan logam tanah jarang sebesar Rp 4,7 triliun.
Salah satu proyek yang menopang peningkatan investasi tersebut adalah pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat, yang dikembangkan Grup MIND ID melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) bersama PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM). Fasilitas itu memiliki kapasitas produksi 1 juta ton alumina per tahun dengan kebutuhan sekitar 3,3 juta ton bauksit per tahun.
Anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno menyambut positif peningkatan investasi hilirisasi bauksit. Menurut dia, selama ini sektor bauksit memang tertinggal dibandingkan nikel karena investasi lebih banyak mengalir ke industri pengolahan nikel.
“Kami menyambut gembira capaian investasi di sektor hilirisasi bauksit melalui peningkatan tajam investasi smelter. Jika dilihat dari perkembangannya di masa lalu, kita memang menunggu lebih banyak lagi investasi di sektor smelter bauksit karena cenderung tertinggal dibandingkan investasi di sektor nikel,” kata Eddy.
Dia berharap pembangunan smelter tidak berhenti pada tahap pengolahan awal, tetapi berlanjut hingga pengembangan industri hilir agar nilai tambah yang diperoleh Indonesia semakin besar. Sepanjang Januari-Juni 2026, realisasi investasi tercatat menyerap 1.448.862 tenaga kerja. Adapun pada triwulan II 2026 saja, penyerapan tenaga kerja mencapai 742.263 orang atau meningkat 5,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
.png)
22 hours ago
4














































