
Oleh : Fahmi Salim, Direktur Al-Fahmu Institute & Wakil Ketua Komisi HLNKI MUI Pusat
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap bulan Ramadan, umat Islam menantikan satu malam yang disebut sebagai malam paling mulia dalam sejarah spiritual manusia: Lailatul Qadar. Dalam Al-Qur'an, malam ini digambarkan sebagai malam yang “lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al-Qadr: 3). Nilai ibadah pada malam tersebut bahkan melampaui ibadah selama lebih dari delapan puluh tahun. Karena itu, sejak masa Nabi hingga generasi ulama klasik, Lailatul Qadar menjadi pusat perhatian spiritual umat Islam.
Namun menariknya, Al-Qur’an tidak menyebutkan tanggal pasti malam tersebut. Yang dijelaskan justru karakter spiritualnya: malam yang dipenuhi ketenangan, turunnya para malaikat, dan limpahan rahmat hingga terbit fajar. Dalam Surah Al-Qadr disebutkan bahwa pada malam itu para malaikat turun bersama Jibril membawa berbagai ketetapan Allah, dan malam itu dipenuhi keselamatan hingga datangnya fajar.
Gambaran ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar bukan sekadar fenomena kosmik, tetapi juga pengalaman spiritual yang menghadirkan ketenangan mendalam bagi orang-orang yang menghidupkannya dengan ibadah.
Tanda-tanda Lailatul Qadar dalam Hadis
Dalam hadis-hadis Nabi, terdapat beberapa tanda yang sering disebutkan para ulama. Nabi Muhammad menjelaskan bahwa malam tersebut berlangsung dalam suasana yang tenang, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Pada pagi harinya, matahari terbit dengan cahaya lembut yang tidak menyilaukan. Riwayat-riwayat ini menjadi petunjuk bagi para sahabat untuk mengenali keberkahan malam tersebut.
Namun para ulama menegaskan bahwa tanda-tanda itu biasanya diketahui setelah malam itu berlalu, sehingga umat Islam tidak dianjurkan hanya menunggu tanda, melainkan menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan dengan ibadah yang sungguh-sungguh.
Perbedaan Pendapat Sahabat tentang Waktu Lailatul Qadar
Sejak masa sahabat Nabi, terdapat perbedaan pendapat mengenai kemungkinan tanggal Lailatul Qadar. Sebagian sahabat meriwayatkan pengalaman Nabi yang menunjukkan kemungkinan malam tertentu.
Sahabat Abu Sa'id al-Khudri meriwayatkan bahwa Nabi pernah mengalami Lailatul Qadar pada malam ke-21 Ramadan. Riwayat lain menunjukkan kemungkinan malam ke-23, sebagaimana dipahami oleh sahabat Abdullah ibn Unays.
Pendapat yang paling populer datang dari sahabat Ubayy ibn Ka'b yang menyatakan bahwa Lailatul Qadar adalah malam ke-27 Ramadan. Dalam riwayat sahih Muslim ia bahkan bersumpah bahwa ia mengetahui malam tersebut berdasarkan petunjuk Nabi.
Sementara itu, sahabat Abdullah ibn Umar meriwayatkan sabda Nabi agar umat Islam mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan. Riwayat ini kemudian menjadi dasar pendapat mayoritas ulama.
Analisis Ibn Abbas tentang Malam ke-27
Penjelasan menarik juga datang dari sahabat yang dikenal sebagai ahli tafsir, Abdullah ibn Abbas. Dalam beberapa riwayat, ia memberikan analisis simbolik terhadap Surah Al-Qadr. Ketika kata-kata dalam surah tersebut dihitung, kata “hiya” dalam ayat terakhir—yang merujuk kepada malam tersebut—berada pada urutan kata ke-27. Sebagian ulama melihatnya sebagai isyarat simbolik kemungkinan malam ke-27 Ramadan.
Meski demikian, para ulama menegaskan bahwa analisis semacam ini adalah ijtihad, bukan ketetapan pasti.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
.png)
2 hours ago
1
















































