Hizbullah Luncurkan 20 Serangan Roket dan Drone Targetkan Konsentrasi Pasukan IDF Israel Utara

1 hour ago 8

Penampakan peluncur Iron Dome yang hancur dirudal Hizbullah di utara Israel. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Kelompok pejuang Hizbullah, Sabtu (8/3/2026), menyatakan telah melancarkan 20 serangan menggunakan roket dan drone terhadap sejumlah lokasi militer Israel serta konsentrasi pasukan di wilayah Israel utara. Kelompok yang berbasis di Lebanon itu menyampaikan dalam serangkaian pernyataan yang dipantau Anadolu bahwa serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan Israel terhadap puluhan kota dan desa di Lebanon, termasuk wilayah pinggiran selatan Beirut.

Salah satu target serangan adalah kota Nahariya di Israel utara. Hizbullah mengatakan mereka meluncurkan tiga gelombang serangan roket dan sekawanan pesawat nirawak (drone) yang berkeliaran setelah sebelumnya memperingatkan warga agar meninggalkan wilayah tersebut.

Sebelumnya pada Sabtu, kelompok itu juga mendesak warga Nahariya dan Kiryat Shmona untuk segera meninggalkan wilayah tersebut dan menuju ke arah selatan. Peringatan itu disampaikan melalui Telegram disertai peta kedua kota tersebut.

Hizbullah juga menyatakan telah menargetkan sistem radar Iron Dome di lokasi Kiryat Eliezer, yang mereka sebut sebagai salah satu basis pertahanan udara utama di kota Haifa, Israel utara. Serangan lain mencakup tembakan roket dan serangan drone ke kota Haifa dan Kiryat Shmona, serta pangkalan Stella Maris dan kompleks industri militer Rafael di dekat kota Acre, menurut pernyataan kelompok tersebut.

Hizbullah juga melaporkan serangan terhadap sejumlah posisi militer Israel di dekat perbatasan Lebanon, termasuk konsentrasi pasukan di sekitar Khiam dan Bukit Hamamis di Lebanon selatan. Serangan tambahan juga menargetkan posisi militer di sekitar perlintasan Gerbang Fatima di perbatasan Lebanon-Israel serta pangkalan Ein Zeitim di barat laut Safed, kata kelompok itu.

Hizbullah juga menyatakan telah menembakkan sebuah “rudal presisi” ke arah pangkalan Tel Hashomer yang berjarak sekitar 120 kilometer dari perbatasan Lebanon. Militer Israel mengakui bahwa operasi pasukan khusus yang dilakukan pada malam hari di Lebanon timur untuk mencari sisa-sisa jasad navigator yang hilang, Ron Arad, tidak berhasil.

Perkembangan ini terjadi di tengah meluasnya kampanye militer Israel di Lebanon sejak Senin, menyusul tembakan roket terbatas oleh Hizbullah di tengah meningkatnya ketegangan regional akibat perang yang dipicu oleh agresi militer Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.

Israel telah menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai sekitar 17.000 lainnya dalam serangan di Lebanon yang dimulai pada Oktober 2023 dan meningkat menjadi perang skala penuh pada September 2024. Meskipun ada perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah sejak November 2024, militer rezim Zionis dukungan AS itu terus melakukan pelanggaran yang menyebabkan ratusan orang tewas dan terluka.

sumber : Antara, Anadolu

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |