Gaza, Perdamaian, dan Suara yang Sering Terlupakan

6 hours ago 3

Oleh: Syuhelmaidi Syukur, Chairman Harika Foundation, Mahasiswa Pascasarjana Institut SEBI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konflik Gaza kembali menghadirkan pertanyaan mendasar yang terus berulang dalam sejarah konflik global: apakah perdamaian hanya berarti berhentinya tembakan, ataukah lebih dari itu—yakni pemulihan martabat manusia, keadilan, dan masa depan generasi yang hidup di tengah reruntuhan?

Eskalasi kekerasan di Gaza bukan sekadar tragedi regional. Ia telah menjadi isu geopolitik global yang melibatkan kekuatan besar, organisasi internasional, serta aktor regional dengan kepentingan masing-masing. Namun di tengah hiruk pikuk diplomasi dan strategi keamanan, satu hal sering terabaikan: suara manusia yang hidup dalam konflik itu sendiri.

Gaza hari ini bukan hanya medan perang, juga ruang trauma kolektif, krisis kemanusiaan, dan pertarungan narasi tentang keadilan, keamanan, serta identitas.

Statistik Kemanusiaan: Skala Tragedi Gaza

Data kemanusiaan terbaru memperlihatkan skala tragedi yang sangat besar. Hingga awal 2026, sekitar 71.657 warga Gaza dilaporkan tewas, termasuk 18.592 anak-anak dan 12.400 perempuan, sementara lebih dari 180 ribu orang mengalami luka-luka.

Selain itu, sekitar 2 juta warga mengungsi, sebagian besar mengalami perpindahan berulang, dan lebih dari 11 ribu orang masih dinyatakan hilang. Kerusakan fisik juga sangat luas. Sekitar 191 ribu bangunan rusak atau hancur.

Lebih dari 90 persen rumah terdampak, dan mayoritas sekolah tidak lagi berfungsi. Sistem kesehatan berada di ambang kolaps akibat kekurangan obat, listrik, dan tenaga medis.

Sementara, lebih dari 500 insiden serangan terhadap fasilitas kesehatan tercatat oleh organisasi internasional.

Krisis pangan memperparah situasi. Laporan kemanusiaan menunjukkan, seluruh populasi Gaza mengalami kerawanan pangan akut, dengan sebagian warga menghadapi kondisi kelaparan ekstrem.

Statistik ini menegaskan, konflik Gaza bukan sekadar perang militer, tetapi krisis kemanusiaan struktural yang berdampak jangka panjang.

Kisah di Balik Statistik

Namun, statistik hanya menceritakan sebagian dari kisah. Di berbagai wilayah Gaza, banyak keluarga tinggal di tenda darurat atau bangunan rusak setelah rumah mereka hancur. Perpindahan berulang menjadi pengalaman umum, membuat konsep “rumah” kehilangan makna stabilitas.

Orang tua berusaha menjaga harapan anak-anak, sementara kebutuhan dasar seperti air bersih, makanan, dan layanan kesehatan menjadi sumber kecemasan harian. Insiden tragis saat distribusi bantuan pangan yang menewaskan warga sipil menunjukkan betapa kebutuhan dasar dapat berubah menjadi situasi berbahaya.

Info dari relawan kami di kamp pengungsian, ribuan keluarga hidup dalam kondisi padat dengan sanitasi terbatas, sementara akses pendidikan semakin terputus. Pengalaman ini menciptakan trauma kolektif yang mendalam.

Masyarakat Sipil di Tengah Konflik

Di tengah keterbatasan ruang politik formal, masyarakat sipil Palestina memainkan peran penting. NGO lokal menyediakan layanan kemanusiaan, advokasi hak asasi manusia, serta program peace building berbasis komunitas.

Peran ini menunjukkan di balik konflik militer, terdapat upaya diam-diam untuk membangun perdamaian dari bawah. Dialog lintas komunitas, pendidikan perdamaian, dan solidaritas sosial menjadi bentuk resistensi non-kekerasan yang jarang mendapat sorotan.

Namun masyarakat sipil juga menghadapi tantangan serius: keterbatasan pendanaan, pembatasan mobilitas, serta politisasi ruang sipil. Tanpa dukungan yang memadai, suara akar rumput berisiko terpinggirkan dalam arsitektur perdamaian global.

Luka yang tak Terlihat: Trauma Gaza

Salah satu dimensi yang sering diabaikan dalam diskursus geopolitik adalah trauma psikologis. Konflik Gaza menciptakan trauma kolektif yang memengaruhi identitas sosial, kesehatan mental, dan persepsi masyarakat terhadap masa depan.

Anak-anak yang tumbuh dalam kondisi perang berulang berisiko mewarisi memori konflik yang membentuk identitas generasi berikutnya. Trauma generasional ini dapat memperkuat siklus kekerasan jika tidak ditangani secara serius.

Namun di tengah trauma, masyarakat Gaza juga menunjukkan ketahanan sosial luar biasa. Solidaritas komunitas, jaringan keluarga, serta praktik keagamaan menjadi mekanisme healing yang membantu masyarakat bertahan.

Fakta ini menunjukkan, perdamaian tidak hanya membutuhkan rekonstruksi fisik, juga pemulihan psikologis dan sosial.

Perspektif Maqasid Peace: Perdamaian Sebagai Kemaslahatan

Di sinilah perspektif Islam menawarkan kontribusi penting melalui konsep maqasid al-shariah. Maqasid menekankan perlindungan kehidupan, akal, keturunan, agama dan harta sebagai fondasi kemaslahatan manusia.

Dalam konteks Gaza, pendekatan ini menempatkan perdamaian sebagai upaya menjaga kehidupan manusia secara menyeluruh. Perdamaian tidak cukup diukur dari stabilitas politik, juga pemulihan trauma, rekonstruksi sosial, dan keadilan struktural.

Konsep sulh dalam Islam menekankan rekonsiliasi melalui dialog dan pemulihan hubungan sosial. Sementara prinsip wasatiyyah menawarkan moderasi sebagai jalan keluar dari polarisasi ekstrem. Pendekatan ini juga membuka ruang bagi trauma healing berbasis spiritualitas, yang terbukti menjadi sumber ketahanan masyarakat Gaza selama ini.

Spirit Konstitusi Indonesia: Menolak Penjajahan di Atas Dunia

Bagi bangsa Indonesia, isu Gaza memiliki resonansi historis dan moral yang kuat.

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 secara tegas menyatakan kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Spirit konstitusi ini bukan sekadar retorika, tetapi refleksi pengalaman historis Indonesia sebagai bangsa yang pernah hidup di bawah penjajahan. Karena itu, dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan, keadilan, dan perdamaian global merupakan mandat konstitusional sekaligus moral.

Dalam konteks Gaza, spirit tersebut mengingatkan perdamaian tidak boleh mengabaikan keadilan. Penghapusan penjajahan, perlindungan hak asasi manusia, serta pemulihan martabat manusia menjadi prinsip yang sejalan dengan nilai universal dan amanat konstitusi Indonesia.

Lebih jauh, pengalaman Indonesia menunjukkan, perjuangan kemerdekaan tidak selalu identik dengan kekerasan semata, juga diplomasi, solidaritas internasional, dan rekonsiliasi. Pelajaran ini relevan bagi upaya perdamaian Gaza yang membutuhkan kombinasi keadilan, dialog, dan kerja sama global.

Menghindari Perdamaian Semu

Pelajaran penting dari konflik Gaza adalah bahaya perdamaian semu—situasi tanpa kekerasan terbuka tetapi penuh ketidakadilan struktural. Stabilitas semacam ini rapuh dan berpotensi melahirkan konflik baru.

Jika Board of Peace hanya berorientasi pada keamanan tanpa integrasi keadilan, rekonstruksi sosial, dan pemulihan trauma, maka ia berisiko menjadi mekanisme stabilisasi geopolitik, bukan solusi perdamaian berkelanjutan.

Perdamaian sejati membutuhkan pendekatan multidimensional yang mengintegrasikan keamanan, keadilan, rekonstruksi, serta pemulihan manusia.

Gaza Sebagai Ujian Moral Dunia

Pada akhirnya, Gaza bukan hanya persoalan politik Timur Tengah. Ia menjadi ujian moral bagi komunitas internasional: apakah dunia mampu membangun arsitektur perdamaian yang berorientasi pada manusia, bukan sekadar kepentingan negara.

Perdamaian di Gaza tidak akan lahir dari meja diplomasi semata. Ia membutuhkan pengakuan terhadap suara masyarakat, pemulihan trauma, rekonstruksi sosial, serta keberanian menghadapi ketidakadilan struktural.

Jika perdamaian adalah tentang masa depan manusia, maka Gaza mengingatkan kita bahwa perdamaian sejati selalu dimulai dari keberanian mendengar mereka yang paling terdampak konflik, yaitu warga Gaza itu sendiri. Wallahu a’lam bish showab.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |