REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada semacam getar halus yang merambat di ruang-ruang istana negara pekan lalu. Bukan karena gempa, bukan pula karena hiruk-pikuk politik domestik. Getar itu datang dari jauh, dari gurun pasir yang membara, dari langit Teheran yang mendadak meraung oleh suara sirene dan deru pesawat tempur.
Ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran pada 28 Februari 2026, dunia seketika menahan napas. Di Jakarta, Presiden Prabowo Subianto tak membiarkan diri larut dalam diam.
Bayangkanlah suasana di ruang kerja kepresidenan. Di atas meja, laporan intelijen dan analisis geopolitik menumpuk. Di layar telepon, nama-nama pemimpin dunia silih berganti muncul. Dari komunikasi dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, hingga pembicaraan hangat dengan Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani, dan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman.
Ini bukan sekadar obrolan diplomatik basa-basi. Ini adalah benang-benang halus yang ditenun di tengah badai, upaya merajut kembali dialog yang nyaris putus oleh bunyi peluru.
Indonesia, negeri kepulauan yang jauh dari medan pertempuran, tiba-tiba merasakan panasnya gelombang konflik. Timur Tengah adalah nadi minyak dunia, dan ketika nadi itu berdenyut kencang oleh ketegangan, harga energi bisa melonjak membabi buta. Bagi Indonesia yang masih menggantungkan impor energi, ini bukan sekadar berita internasional, melainkan ancaman nyata di dapur rumah tangga dan pabrik-pabrik.
Belum lagi jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Asia, Eropa, dan Afrika, urat nadi perdagangan global, kini rawan tersendat. Biaya logistik membengkak, rantai pasok terancam patah. Konflik di Timur Tengah, diam-diam, mengetuk pintu ekonomi Indonesia.
Di sinilah letak keistimewaan sikap Indonesia. Di tengah dunia yang kian terpolarisasi, di mana negara-negara cenderung memilih kubu, Jakarta memilih jalan sunyi diplomasi. Bukan jalan yang gemerlap dengan retorika keras, melainkan jalan berliku yang ditempuh dengan langkah hati-hati. Ini adalah implementasi nyata dari politik bebas aktif, sebuah warisan para pendiri bangsa yang tak lekang oleh zaman: bebas berarti tak terikat pada blok kekuatan mana pun, aktif berarti hadir memberi sumbangsih bagi perdamaian dunia.
Pendekatan ini tak melulu soal komunikasi dengan kawan. Indonesia juga menjaga hubungan diplomatik dengan Iran. Negeri ini memiliki ruang untuk menyampaikan pesan-pesan diplomatik secara terbuka, mendorong semua pihak menahan diri, menghindari aksi balasan yang hanya akan menyulut api semakin besar. Dalam diplomasi, menahan reaksi militer sering kali lebih sulit daripada memprovokasi perang. Dan di situlah Indonesia mencoba menitipkan pengaruhnya.
Di forum-forum internasional, suara Indonesia tak pernah absen. Di tingkat ASEAN, negara-negara serempak menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menghormati hukum internasional. Malaysia dan Brunei dengan lantang mengecam serangan, sementara Singapura, Vietnam, Filipina, dan Thailand bersama Indonesia menekankan pentingnya perlindungan warga dan deeskalasi. Di lingkaran negara berkembang D-8, yang anggotanya membentang dari Bangladesh hingga Nigeria, dari Turki hingga Iran, keprihatinan kolektif disuarakan. Tekanan ini bukan untuk memojokkan, melainkan untuk membangun konsensus global bahwa perang terbuka adalah bencana yang tak dikehendaki siapa pun.
Yang menarik, diplomasi Indonesia tidak mengenakan rompi perang. Tak ada retorika konfrontatif, tak ada kata-kata yang menusuk. Sebaliknya, yang ditawarkan adalah pendekatan konstruktif, tegas dalam prinsip namun hangat dalam penyampaian. Diplomasi sunyi ini ibarat air yang meresap perlahan, mengingatkan bahwa dalam konflik serumit Timur Tengah, tekanan yang paling efektif kadang datang bukan dari gertakan senjata, melainkan dari ajakan jernih untuk kembali ke meja perundingan.
Presiden Prabowo telah menegaskan kesiapan Indonesia menjadi fasilitator jika diperlukan. Mungkin mediasi formal belum terwujud, tapi pintu dialog telah dibuka lebar-lebar. Di tengah dunia yang sibuk menghitung kekuatan rudal dan kapal induk, Indonesia sibuk menghitung kata-kata, merangkainya menjadi jembatan, dan meyakinkan bahwa perdamaian masih mungkin diraih.
Karena pada akhirnya, bagi Indonesia, menjaga pintu perundingan tetap terbuka bukan sekadar pilihan diplomatik. Itu adalah keharusan moral, warisan peradaban, dan mungkin, satu-satunya cara agar gemuruh perang tak sampai menghancurkan rumah kita bersama.
sumber : Antara
.png)
7 hours ago
3
















































