Pembeli memilih selongsong ketupat untuk keperluan Lebaran (ilustrasi). Setelah sebulan penuh berpuasa dengan pola makan terbatas, masyarakat sebaiknya tidak langsung kembali ke pola makan normal dalam porsi besar.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setelah menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, banyak orang kerap "balas dendam" dengan menyantap berbagai makanan selama Hari Raya Idul Fitri. Apalagi, santapan khas Lebaran seperti ketupat dan opor, rendang, gulai, hingga aneka kue sangat menggugah selera.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi, dr Ari Fahrial Syam, mengingatkan bahwa tubuh terutama sistem pencernaan memerlukan proses adaptasi setelah Ramadhan. Menurutnya, setelah sebulan penuh berpuasa dengan pola makan terbatas, masyarakat sebaiknya tidak langsung kembali ke pola makan normal dalam porsi besar.
"Perlu ada penyesuaian secara bertahap, baik dari sisi jumlah makanan, waktu makan, maupun pola istirahat. Jangan langsung berlebihan karena lambung memiliki keterbatasan dalam menerima asupan," kata dr Ari dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (18/3/2026).
la menjelaskan makanan khas Lebaran yang bersantan, berlemak dan tinggi gula, dapat memicu keluhan seperti kembung, begah, hingga nyeri ulu hati. Gejala tersebut perlu diwaspadai sebagai tanda bahwa sistem pencernaan mulai kewalahan.
"Jika sudah muncul rasa tidak nyaman seperti begah, mual, atau nyeri di ulu hati, itu adalah sinyal untuk berhenti makan. Jangan dipaksakan," ujar dr Ari.
Untuk mencegah gangguan pencernaan, ia mengimbau masyarakat membatasi konsumsi makanan tinggi lemak, santan, serta makanan yang terlalu pedas atau asam. Selain itu, konsumsi minuman bersoda dan kopi secara berlebihan juga sebaiknya dihindari, terutama bagi mereka yang sebelumnya telah mengurangi asupan tersebut selama Ramadhan.
"Anjuran puasa Syawal dapat menjadi salah satu cara untuk membantu proses transisi tubuh menuju pola makan normal," ujar dr Ari.
.png)
3 hours ago
3














































