Kapal tanker Shenlong berbendera Liberia, yang membawa minyak mentah dari Arab Saudi ke India melalui Selat Hormuz, tiba di Pelabuhan Mumbai di Mumbai, India, 12 Maret 2026. Iran telah mengizinkan kapal tanker minyak India untuk melewati Selat Hormuz setelah pembicaraan diplomatik antara Menteri Luar Negeri S. Jaishankar dan mitranya dari Iran, Abbas Araghchi.
REPUBLIKA.CO.ID,BANGKOK — Negara-negara Asia Timur mulai mencari pemasok dan sumber energi baru di tengah gangguan pasokan global akibat konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga dan ketidakpastian pasokan energi. Data U.S. Energy Information Administration menunjukkan lebih dari 80 persen gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) yang melintasi Selat Hormuz pada 2024 dikirim ke Asia.
Sebagian besar pasokan tersebut menuju Jepang, Korea Selatan (Korsel), dan Taiwan, yang sangat bergantung pada impor energi untuk menopang industri mereka. Jepang mengandalkan cadangan strategis minyak sebagai lini pertahanan utama.
Negara itu memiliki cadangan setara sekitar 254 hari konsumsi, sistem yang dibangun sejak krisis minyak Arab pada 1970-an. Pekan ini, pemerintah Jepang mulai melepas cadangan sekitar 45 hari guna menahan lonjakan harga bahan bakar di tengah perlambatan impor minyak mentah.
Langkah serupa terakhir dilakukan setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Kebijakan ini diharapkan menjaga keberlangsungan industri padat energi Jepang, mulai dari otomotif hingga baja dan mesin berat. Perusahaan besar seperti Toyota, Mitsubishi, dan Nippon Steel sangat bergantung pada pasokan energi yang stabil.
Sementara itu, Korsel berencana melepas 22,46 juta barel dari cadangannya sebagai bagian dari koordinasi terbesar yang pernah dilakukan oleh International Energy Agency.
Namun para analis memperingatkan penggunaan cadangan energi bukan solusi jangka panjang. Langkah ini hanya memberikan bantalan sementara bagi kilang terhadap gangguan pasokan, tanpa meningkatkan total ketersediaan energi suatu negara kecuali dapat menggantinya melalui pembelian baru.
Analis energi dari Kpler, Muyu Xu, mengatakan jika krisis berlanjut, kekurangan minyak mentah dapat kembali terjadi. Pelepasan cadangan mungkin hanya mampu menjaga operasional kilang selama beberapa pekan tambahan, tetapi perusahaan kemungkinan harus memperlambat produksi jika gangguan terus berlangsung.
“Kesulitan mendasar tidak akan terselesaikan dengan langkah ini,” kata Direktur Renewable Energy Institute Jepang, Mika Ohbayashi.
sumber : AP
.png)
2 days ago
8















































