Desta Romansyah
Sastra | 2026-03-13 20:55:43
Cerpen Desta Romansyah
Setelah kejadian itu, ibu seringkali menyendiri di tepi pojok kamar nya. Terdengar suara isak cukup keras, membuat saya curiga hingga membuat saya memutuskan untuk menemuinya. Dan ibu langsung menyeka cepat air yang terurai di dua mata nya ketika saya datang. “Ibu kenapa?” Tanya saya kepada ibu. “ibu kenapa?” Tanya saya lagi. Menghela nafas lalu ibu menjawab, “Ibu tidak apa-apa Nak”. Mendengar jawaban itu dari ibu, bukannya saya sendiri langsung puas justru malah membuat saya semakin curiga apa yang terjadi terhadap ibu.
“Baiklah kalau ibu tidak apa-apa” ucap saya dengan berpura-pura tenang namun memendam rasa ingin tahu dari kejadian ini.
Ke esokan harinya, saya berpamitan kepada ibu untuk mencari pekerjaan di wilayah kota tempat kami tinggal. Namun, selain mencari pekerjaan ada misi yang belum saya mulai yaitu mencari tahu apa yang terjadi di balik tangisan ibu. Saya mencoba berjalan sambil membawa berkas yang di masukan ke dalam map warna kecokelatan, menyapa tetangga kanan-kiri sambil berharap semoga ada yang menerima saya sebagai pekerja. Di sepanjang jalan komplek rumah, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada tetangga-tetangga kami terkait soal ibu.
“Asslamualaikum Bapak, mohon maaf sebelumnya mengganggu waktunya. Bolehkah saya bertanya kapada Bapak?”
“Waalaikumussalam iya mas boleh. Ada apa ya?” Jawab bapak tersebut.
“Gini bapak, kemarin saya kedapatan ibu sedang menangis di rumah, tapi saya kurang tahu apa yang terjadi kepada ibu, sedangkan saya bertanya kepada ibu, ibu saya katanya tidak apa-apa. Apakah bapak tahu?”
“Waduh mas saya tidak tahu mas, soalnya saya juga baru pulang dari kampung”. Jawab bapak itu.
“Oh iya sudah bapak, saya pikir bapak tahu. Kalau begitu saya permisi ya Pak”. Setelah berbincang-bincang kepada bapak komplek rumah ternyata bapak itu tidak tahu terkait soal ibu. Dan saya memutuskan untuk kembali berjalan.
Dala perjalanan ini, saya membawa dua beban. Yang pertama beban bagaimana secepatnya saya mendapatkan pekerjaan, dan yang kedua beban terkait soal tangisan ibu.
Air mata ibu menjadi sebuah misteri bagi saya. Maka misteri itu harus saya pecahkan. Saya memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibu sehingga ibu menangis. Karena sebelumnya saya tidak ada di rumah beberapa minggu. Kebetulan belakangan ini saya sibuk membantu pakde Ujang mengelupas kulit jengkol.
Pada hari selanjutnya setelah saya berkeliling mencari pekerjaan dan misteri air mata ibu, saya melanjutkan usaha saya untuk menghapus status saya sebagai pengangguran dan memecahkan misteri tersebut. Saya anak satu-satunya Ibu saya. Satu bulan yang lalu, ayah saya pergi dari rumah karena cecok dengan ibu saya. Saya tidak tahu apa masalahnya. Yang jelas saya melihat mereka cecok beradu mulut.
Saya sempat terpikir misteri ini (air mata ibu) gara-gara ayah saya. Tapi saya belum berani memutuskan bahwa apa yang saya pikirkan itu benar.
Saya melanjutkan perjalanan keliling kota dengan membawa map kecokelatan dan seragam hitam putih baju di masukan dan sepatu hitam sedikit mengkilat.
Setengah perjalanan dari rumah, tiba-tiba saya di panggil seseorang yang di mana saya tidak tahu siapa orang tersebut.
“Heh Mas”. Sapa seseorang tersebut. “Mas anaknya Ibu Narni Bukan?” Lanjut tanya seseorang tersebut. Saya kaget kok orang tersebut tahu kalau saya anaknya Ibu Narni. “Iya betul Bu saya anaknya Ibu Narni. Mohon maaf kok Ibu tahu kalau saya anaknya Ibu Narni?”. Jawab saya dengan sedikit penasaran sehingga saya berbalik tanya kepada Ibu tersebut. “Saya Ibu Darmi kebetulan saya teman arisan Ibu kamu Mas”. Jawab Ibu tersebut. “Bagaimana keadaan Ibu kamu? Tubuhnya sudah sembuh kan?”. Tanya Ibu Darmi. Dengan pertanyaan berikut saya langsung kaget, dan “Sebentar Bu, memang ada Bu?”. Tanya saya dengan ekspresi deg-deg-an. “Begini Mas, waktu Mas pergi menginap beberapa minggu di rumah pakde Mas, ada kejadian dahsyat di rumah Mas. Ibu dan Bapak Mas cekcok besar sehingga Ibu Mas mengalami luka di bagian punggung lantaran Bapak Mas memukul Ibu pakai Rotan”. “Apa Ibu tidak cerita sama Mas?” Saya menghela nafas dan termenung. “Mas, Mas”, Panggil Ibu Darmi. “Oh iya Bu. Tidak Bu Tidak, Ibu saya tidak pernah cerita kepada saya”.
Akhirnya misteri yang selama ini saya cari terpecahkan lewat perantara teman Ibu saya sendiri. Misteri yang benar-benar misteri dan begitu miris serta mengecewakan. Ternyata selama ini Ibu saya menyembunyikan air mata nya dari saya. Dan pantas saja akhir-akhir ini ibu saya mengurung diri. Semua ini di sebabkan oleh sikap dari Ayahku sendiri sehingga air mata Ibu ku mengalir.
Air mata Ibu tidak bisa menyembunyikan luka nya. Kejadian-kejadian itu, merubah segalanya. Merenggut cemara di raut wajah Ibu. Membunuh jiwa Ibu secara perlahan. Air mata Ibu yang begitu mahal, tiba-tiba mengalir di pipi di sudut pojok ruang kamar. Dengan itu, saya mendekap Ibu selalu.
“Ada dua air mata Ibu. Satu air mata kebahagiaan, sedangkan yang terakhir air mata luka di hati”
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
4 hours ago
2














































