29 warga Israel Terinjak-injak Saat Berebut Hindari Rudal Iran

3 hours ago 3

Kebakaran di lokasi kejadian setelah sebuah bangunan dihantam rudal Iran di Tel Aviv, Israel, 28 Februari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Layanan ambulans Israel melaporkan 29 warga Israel terluka akibat terinjak-injak saat berebutan mencapai bunker perlindungan. Kepanikan itu seiring gelombang pemboman Iran pada Selasa (11/3/2026) malam.

Garda Revolusi Iran mengumumkan peluncuran gelombang rudal baru sebagai bagian dari operasi yang disebut Iran sebagai “Janji Sejati 4” - saat fajar pada hari Rabu. IRGC  mengatakan serangan itu akan berlangsung setidaknya tiga jam. Ini mewakili gelombang operasi ke-37.

Garda Revolusi mengatakan – dalam pernyataannya – bahwa gelombang rudal baru tersebut mencakup sasaran Amerika di Erbil, dan lokasi milik Armada Kelima, selain sasaran di jantung Tel Aviv.

YNet melansir, sirene alarm roket berbunyi dari Rehovot ke Hadera sesaat sebelum pukul 04.00 pagi pada Rabu dan setengah jam kemudian, menyebabkan jutaan orang di Israel tengah dan Tepi Barat bagian utara berebut menuju tempat perlindungan. 

Tidak ada korban luka yang dilaporkan. Angkatan Udara Israel berhasil mencegat peluncuran dari Iran. Sirene Rabu pagi terdengar beberapa jam setelah, sesaat sebelum tengah malam pada Selasa malam, alarm peringatan akan adanya rudal yang ditembakkan dari Iran. 

Sirene tambahan berbunyi setelah tengah malam pada Rabu pagi. Alarm juga berbunyi di Yerusalem dan kawasan Laut Mati, dan kemudian di Teluk Haifa dan kawasan Carmel. Pada saat yang sama, peringatan dibunyikan untuk memperingatkan masuknya pesawat tak berawak bersenjata di Galilea.

Seorang jurnalis India yang baru saja kembali dari Israel menggambarkan pembatasan ketat terhadap liputan media selama perang yang sedang berlangsung antara Iran dan Israel.

Jurnalis Praj Mohan Singh mengatakan bahwa pihak berwenang mengontrol dengan ketat apa yang dapat didokumentasikan oleh wartawan mengenai kerusakan yang disebabkan oleh serangan rudal Iran, Aljazirah melaporkan.

“Pemerintah (Israel) tidak akan memberitahu Anda apa pun, Anda tidak bisa mengunjungi rumah sakit yang menampung jenazah, dan ketika terjadi kecelakaan, kami bahkan tidak tahu di mana kejadiannya,” ujarnya.

Menurut Singh, otoritas pendudukan Israel juga melarang jurnalis merekam kehancuran yang disebabkan oleh serangan Iran. Kesaksiannya telah beredar luas di platform media sosial, di mana pengguna menggambarkannya sebagai bukti sensor ketat militer Israel selama konflik.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |