REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tuntutan pekerjaan yang kian kompleks, mulai dari tenggat waktu yang padat hingga paparan notifikasi digital tanpa henti, mulai berdampak pada fungsi kognitif individu usia produktif. Keluhan seperti mudah lupa, sulit fokus saat membaca, hingga penurunan kecepatan berpikir kini semakin sering dirasakan kelompok usia 30–40 tahun.
Kondisi tersebut kerap dianggap sekadar kelelahan. Namun, dalam sejumlah kasus, gejala ini dapat menjadi tanda awal penurunan fungsi kognitif yang berpotensi berkembang menjadi demensia jika tidak ditangani sejak dini.
Data World Health Organization menunjukkan sekitar 55–57 juta orang di dunia hidup dengan demensia, dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahun. Angka ini menegaskan bahwa gangguan kognitif merupakan tantangan kesehatan global yang terus meningkat, termasuk pada usia produktif.
Seiring perkembangan ilmu kedokteran, pendekatan pencegahan dan intervensi dini kini semakin diperkuat dengan dukungan teknologi kesehatan. Salah satu inovasi yang berkembang adalah Transcranial Pulse Stimulation (TPS), metode stimulasi otak non-invasif yang dirancang untuk membantu menjaga fungsi kognitif.
TPS bekerja menggunakan gelombang mekanik berenergi rendah yang difokuskan pada area tertentu di otak. Pendekatan ini ditujukan untuk mendukung neuroplastisitas atau kemampuan otak beradaptasi, meningkatkan aliran darah ke jaringan otak, serta membantu fungsi sel saraf yang berperan dalam memori dan konsentrasi.
Berbeda dengan prosedur medis invasif, metode ini tidak memerlukan pembedahan dan relatif dapat ditoleransi. Karena itu, teknologi seperti TPS dinilai berpotensi menjadi bagian dari strategi menjaga kesehatan otak, tidak hanya bagi pasien dengan gangguan kognitif, tetapi juga sebagai langkah preventif.
Praktisi kedokteran fungsional, dr Febby Astari, menjelaskan bahwa penurunan fungsi kognitif tidak hanya dipicu kerusakan sel saraf, tetapi juga gangguan komunikasi antar neuron. “Pada kondisi penurunan kognitif, yang terganggu bukan hanya sel sarafnya, tetapi juga konektivitas antar neuron. Stimulasi pada area tertentu di otak diharapkan dapat membantu memperbaiki komunikasi tersebut,” ujarnya, dikutip dari siaran pers, Kamis (26/3/2028).
Menurut dia, pendekatan kesehatan otak saat ini mulai bergeser dari kuratif menjadi preventif. Artinya, intervensi dilakukan sebelum gejala berat muncul, termasuk pada kelompok usia produktif yang ingin menjaga daya ingat dan fokus.
Meski demikian, para ahli menekankan teknologi stimulasi otak bukan satu-satunya solusi. Upaya menjaga fungsi kognitif tetap memerlukan pendekatan menyeluruh, termasuk pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, kualitas tidur yang baik, serta pengelolaan stres.
Dengan kombinasi gaya hidup sehat dan dukungan teknologi medis, risiko penurunan kognitif diharapkan dapat ditekan sejak dini, sehingga kualitas hidup tetap terjaga hingga usia lanjut. Di Jabodetabek TPS bisa dilakukan di Bethsaida Healthcare, Seraphim Medical Center, yang berlokasi di Paramount Gading Serpong Tangerang. Fasilitas lainnya termasuk Cryo Chamber Therapy, Hyperbaric Oxygen Treatment, PicoWay Laser, Fotona Laser, dan lain sebagainya.
.png)
3 hours ago
1
















































