
Oleh : Broto Wardoyo; Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Indonesia dan Principal Nenggala Research
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam webinar yang diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia tanggal 17 Maret 2026 yang lalu, salah satu narasumber menyampaikan argumen tentang logistik perang sebagai batasan penting dalam keberlanjutan perang di Teluk.
Hal ini menarik mengingat perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran ini mempertontonkan cara perang yang berbeda dari kelaziman. Tulisan ini hanya menelaah cara perang yang diintrodusir oleh Iran dari data-data terbuka yang bisa diakses publik.
Dalam eskalasi konflik sejak akhir Februari 2026, ada satu hal jelas dalam langkah-langkah operasinal Iran. Mereka tidak sekadar merespons serangan, tetapi sedang mengoperasikan sebuah logika perang yang berbeda. Perang ini bukan perang konvensional yang bertumpu pada superioritas teknologi atau kemenangan cepat, melainkan perang yang dibangun di atas saturasi, diferensiasi senjata, dan eksploitasi biaya. Data empiris menunjukkan bahwa pola ini bukan sebuah improvisasi taktis semata, namun sebuah desain operasional yang konsisten.
Pertama, karakter paling mencolok dari operasi militer Iran adalah penggunaan “saturation warfare”. Sejak akhir Februari, Iran meluncurkan ratusan serangan lintas wilayah, termasuk gelombang serangan ke Israel yang bahkan melibatkan lebih dari 90 proyektil dalam satu periode operasi (ACLED, 2026; ISW, 2026). Kemudian, serangan ke Dimona pada tanggal 21 Maret 2026, yang menembus sistem pertahanan berlapis Israel, menunjukkan bahwa bahkan sistem pertahanan paling canggih pun memiliki batas ketika dihadapkan pada volume serangan yang cukup tinggi (Reuters, 21 Maret 2026).
Fenomena ini mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam perang modern. Kombinasi drone murah, produksi massal, dan presisi yang “cukup” melahirkan apa yang disebut sebagai “affordable mass precision” (Plichta & Rossiter, 2024). Dalam waktu yang sama, perang udara juga mengalami kembalinya “expendable mass”, penggunaan sistem murah dan sekali pakai untuk membanjiri pertahanan lawan (Borges et al., 2025). Dengan kata lain, keunggulan tidak lagi ditentukan oleh kualitas individu sistem senjata, tetapi oleh kemampuan untuk memproduksi dan menggunakan kekuatan dalam skala besar secara berkelanjutan.
Kedua, logika ini diperkuat oleh asimetri biaya (cost asymmetry). Drone yang digunakan Iran relatif murah dibandingkan interceptor yang digunakan oleh Israel dan negara-negara Teluk. Dalam skala besar, hal ini menciptakan tekanan ekonomi yang signifikan terhadap pihak lawan. Bahkan, ketika sebagian besar serangan berhasil dicegat, biaya pertahanan tetap tinggi. Negara-negara Teluk sendiri mengakui bahwa serangan terhadap infrastruktur energi mereka memiliki implikasi eksistensial (Reuters, 25 Maret 2026).
Dan inilah inti dari strategi Iran. Mereka tidak berpretensi untuk menghancurkan secara total, tetapi memaksa lawan membayar lebih mahal untuk bertahan. Dalam kerangka konflik asimetris, aktor yang lebih lemah tidak perlu menandingi kekuatan lawan secara simetris. Mereka cukup mengeksploitasi kerentanan dan menciptakan tekanan berulang, keseimbangan dapat bergeser secara bertahap (Sobelman, 2025). Proliferasi drone murah memperkuat logika ini. Biaya rendah dapat menghasilkan dampak ekonomi dan keamanan yang tidak proporsional (Sotoudehfar et al., 2026). Dengan demikian, keunggulan tidak lagi bersifat absolut, tetapi bersifat relatif terhadap biaya yang dapat dipaksakan kepada lawan.
Ketiga, terdapat pola yang konsisten dalam diferensiasi penggunaan senjata. Iran tidak bertindak secara acak, melainkan melakukan “weapon–target matching” yang cukup rasional. Untuk target bernilai tinggi di Israel, Iran menggunakan misil balistik jarak menengah. Serangan ke Dimona pada 21 Maret 2026, yang disebut menggunakan varian Emad atau Ghadr, menunjukkan penggunaan senjata dengan jangkauan dan penetrasi tinggi untuk target strategis (AlJazeera, 22 Maret 2026). Selain itu, penggunaan misil dengan cluster warhead di wilayah Tel Aviv meningkatkan probabilitas penetrasi melalui penyebaran submunisi.
Sebaliknya, di kawasan Teluk, Iran mengandalkan drone kamikaze dan kombinasi drone–misil. Serangan terhadap fasilitas energi di Saudi Arabia, Qatar, dan Uni Emirat Arab pada pertengahan Maret lebih banyak menggunakan pola tersebut dan menunjukkan bahwa intensinya lebih bersifat disruptif daripada destruktif. Mereka cukup untuk memberikan gangguan produksi dan distribusi tanpa harus menghancurkan infrastruktur secara permanen (AP, 20 Maret 2026). Pola ini menunjukkan adanya pembagian fungsi yang jelas, dimana misil diperuntukkan bagi target strategis bernilai tinggi sedangkan drone untuk memberikan tekanan ekonomi berbiaya rendah.
Keempat, konflik ini menunjukkan peningkatan penggunaan serangan langsung, padahal strategi Iran selama ini berakar pada proxy warfare. Sejak 1980-an, Iran membangun jaringan milisi lintas kawasan sebagai instrumen utama proyeksi kekuatan (Şimşek, 2025). Strategi ini memberikan fleksibilitas dan plausible deniability, tetapi juga menyimpan paradoks mendasar karena semakin luas jaringan proxy, semakin sulit juga kontrol atas perilaku mereka. Dalam beberapa kasus, tindakan proxy justru memicu eskalasi yang tidak sepenuhnya diinginkan Iran. Lebih jauh, ketergantungan pada proxy dalam jangka panjang juga dapat memperpanjang konflik dan memperdalam isolasi Iran (Cohen & Shamci, 2022). Dengan demikian, penggunaan serangan langsung dalam konflik ini bukan menggantikan strategi lama, melainkan melengkapinya.
Hanya saja, Amerika Serikat dan Israel nampaknya masih belum belajar dari langkah-langkah Iran tersebut. Amerika Serikat tetap membuka opsi eskalasi, termasuk kemungkinan deployment pasukan darat (AP, 25 Maret 2026). Padahal, langkah ini akan memunculkan risiko strategis. Jika AS masuk ke dalam konflik darat, mereka berpotensi masuk ke dalam jebakan operasional yang dirancang oleh Iran mengingat saturation warfare, cost asymmetry, dan jaringan proxy tidak ditujukan untuk memenangkan perang secara cepat, tetapi untuk memperpanjang konflik dan meningkatkan biaya bagi lawan yang lebih kuat.
Sejarah konflik asimetris sendiri menunjukkan pola yang berulang. Mulai dari Vietnam hingga Irak, kekuatan superior sering kali tidak kalah di medan perang, tetapi kalah dalam kemampuan untuk menanggung biaya jangka panjang. Dalam konteks ini, intervensi darat AS berisiko mengulangi pola tersebut karena akan membuat mereka terseret dalam konflik berkepanjangan yang mahal sementara Iran cukup bertahan dan terus menaikkan biaya secara bertahap.
Pada akhirnya, yang kita saksikan bukan sekadar perubahan taktik, tetapi pergeseran logika perang itu sendiri. Iran tidak berusaha menang cepat, tetapi berusaha membuat perang menjadi terlalu mahal bagi lawannya. Dalam logika seperti ini, kemenangan tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang mampu bertahan lebih lama dengan biaya yang lebih rendah.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
.png)
6 hours ago
6
















































