REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Menteri Keuangan Israel Bazael Smotrich pada Senin (19/1/2026) menyerukan pembatalan rencana Trump untuk Jalur Gaza. Menurut laporan media Israel dilansir Anadolu, Smotrich mendesak pengusiran warga Palestina dan pendudukan warga Israel di Gaza.
Di bawah rencana Trump, gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober 2025 usai aksi militer brutal Israel sejak Oktober 2023 yang telah menewaskan 71 ribu orang, yang kebanyakan adalah wanita dan anak-anak, dan melukai setidaknya 171 ribu jiwa. Baru-baru ini, Washington mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian yang menandai akan dimulainya fase kedua gencatan senjata.
Smotrich pada Senin beerbicara di inaugurasi pendudukan di Tepi Barat, mulanya berterima kasih kepada Trump "dukungan luar biasa untuk Israel" dan niat baiknya. Smotrich juga memuji Trump membantu mengamankan pemulangan para sandera Israel dari Gaza, namun ia kemudian menilai rencana masa depan Trump untuk Gaza akan membahayakan Israel sehingga harus dibatalkan.
"Gaza adalah milik kami," kata Smotrich, yang merupakan pemimpin partai saya kanan, Zionisme Religius.
Menurut Smotrich dikutip Haaretz, masa depan Gaza akan lebih berdampak kepada Israel daripada negara lain. Smotrich menegaskan, Israel harus menerapkan aturan militer, meningkatkan pendudukan, dan "menyelesaikan misi."
Dia juga menyerukan pembubaran kantor pusat koordinasi sipil-militer di selatan Israel, Kiryat Gat yang selama ini mengawasi implementasi rencana Trump. Kantor pusat koordinasi itu dibangun oleh Pusat Komando AS pada Oktober 2025 yang di dalamnya berisi perwakilan dari puluhan negara dan organisasi internasional.
Smotrich meminta diusirnya negara yang disebutnya sebagai "negara tak bersahabat", dari kantor pusat komando Kiryat Gat. Dia juga meminta Hamas untuk dilucuti dan ditarik dari Gaza dalam tempo singkat, mengingatkan bahwa jika tenggat berakhir, Israel harus menyerbu Gaza dengan kekuatan penuh guna menghancurkan Hamas "secara sipil atau militer."
Smotrich juga meminta perlintasan Rafah dibuka, yang mana Israel mengontrol sisi wilayah Palestina, dengan tau tanpa persetujuan Mesir. Tujuannya untuk mempersilakan warga Gaza untuk pergi dan mencari masa depan di mana saja.
Israel merdeka pada 1948, berdiri di atas wilayah Palestina, dan kemudian menduduki semua wilayah Palestina yang tersisa. Sejak negara Israel berdiri, pemerintahannya selalu menolak untuk menarik diri wilayah pendudukan dan menolak sebuah negara merdeka Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
sumber : Anadolu
.png)
1 hour ago
2














































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5356582/original/040605300_1758465597-20250921AA_Futsal_Four_Nation_Indonesia_Vs_Latvia-12.JPG)
