REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Rusuh besar-besaran di Iran belakangan dan upaya sejumlah negara Barat mengipas-ngipasinya, di belakang layar adalah juga perang teknologi yang tak kalah seru. Perang teknologi itu berpusat pada layanan internet Starlink yang diselundupkan ke negara itu untuk menerobos pembatasan internet selama unjuk rasa.
Pada Selasa pekan lalu, Elon Musk, menggratiskan penggunaan Starlink pada warga Iran untuk mencoba megakali pemblokiran internet di negara tersebut. Namun, merujuk The Jerusalem Post melansir, ada indikasi bahwa Israel berada dibalik hal tersebut. Wakil Menteri Israel Almog Cohen dilaporkan berperan dalam mendorong penggunaan internet Starlink di Iran selama unjuk rasa.
Ia disebut menghubungi pemodal ventura Dovi Frances untuk menanyakan tentang layanan tersebut, yang dilaporkan menyebabkan Elon Musk memberikan akses gratis bagi warga Iran untuk melewati blokir internet rezim.
Frances, yang dikenal karena koneksinya di industri teknologi, bertindak sebagai perantara, meskipun dia tidak mengonfirmasi percakapan langsung dengan Musk atau hasil langsung dari diskusinya.
Laporan dari Januari 2026 menunjukkan bahwa setelah diskusi ini, layanan Starlink tersedia tanpa biaya bagi pengguna Iran. Setelah penyelidikan dan tekanan yang lebih luas ini, Elon Musk dilaporkan mengizinkan akses gratis Starlink di Iran dan menginstruksikan timnya untuk melawan gangguan rezim.
Kelompok hak asasi digital mengonfirmasi bahwa Starlink tersedia secara gratis di Iran, memungkinkan pengguna melewati sensor pemerintah.
Starlink dilarang di Iran, namun puluhan ribu terminal mungkin telah diselundupkan ke negara tersebut. Ini menurut Holistic Resilience, sebuah NPO AS yang telah membantu mengirimkan terminal Starlink ke Iran dan mengatakan pihaknya bekerja sama dengan SpaceX untuk memantau apa yang disebutnya sebagai upaya Iran untuk mengganggu sistem.
Saat ini menurut pakar digital Iran Amir Rashidi ada sekitar 50.000 terminal Starlink di Iran. Laporan lain menyebutkan jumlah ini mencapai 100.000. Pengguna layanan ini – yang merupakan bagian dari SpaceX milik Elon Musk – hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan populasi Iran yang berjumlah lebih dari 90 juta orang.
Di seluruh Iran, pihak berwenang memburu terminal Starlink. Mereka mengacak sinyal satu kompleks lingkungan dengan menggunakan alat yang dikembangkan untuk peperangan elektronik. Mereka juga menerbangkan drone di atas atap rumah untuk mencari antena parabola.
Berdasarkan undang-undang yang disahkan pada tahun 2025, kepemilikan terminal Starlink di Iran dapat ditafsirkan sebagai spionase bagi Israel dan dapat dihukum hingga 10 tahun penjara.
Sekitar 10.000 satelit Starlink yang mengorbit rendah dan terbang di atas terminal pengguna dengan kecepatan orbit sekitar 27.360 km/jam) membuat sinyalnya jauh lebih sulit ditemukan dan diganggu dibandingkan sistem satelit tradisional yang dirancang dengan satelit tunggal yang lebih besar dan dipasang di wilayah tertentu.
Iran disebut menggunakan pengacau satelit untuk mengganggu sinyal Starlink, menurut Holistic Resilience dan spesialis lainnya. Iran juga tampaknya terlibat dalam apa yang disebut spoofing, atau menyiarkan sinyal GPS palsu untuk membingungkan dan menonaktifkan terminal Starlink, menurut Nariman Gharib, seorang aktivis oposisi Iran dan penyelidik spionase dunia maya independen yang berbasis di Inggris.
Pemalsuan GPS mendatangkan malapetaka pada koneksi terminal Starlink dan memperlambat kecepatan internet, kata Gharib, yang menganalisis data dari terminal di Iran. “Mungkin bisa kirim pesan teks, tapi lupakan video call,” ujarnya.
.png)
1 hour ago
2













































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5356582/original/040605300_1758465597-20250921AA_Futsal_Four_Nation_Indonesia_Vs_Latvia-12.JPG)
