Ternyata Tradisi Makan Opor Ayam Saat Lebaran Ada Kaitannya dengan Warisan Kompeni Belanda

8 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di banyak rumah di Indonesia, pagi Lebaran selalu dimulai dengan aroma yang sama: santan yang menghangat di dapur, rempah yang ditumis perlahan, dan suara piring yang disusun di atas meja makan. Ketupat, opor ayam, semur, hingga sambal goreng kentang hadir berjejer, bukan sekadar makanan, melainkan penanda bahwa kebersamaan telah kembali menemukan ruangnya.

Tradisi makan bersama saat Lebaran, yang begitu lekat dalam keseharian masyarakat Nusantara, ternyata menyimpan jejak sejarah yang panjang. Jika ditarik ke belakang, pola penyajian beragam hidangan dalam satu meja memiliki kedekatan dengan konsep rijsttafel, sebuah praktik kuliner yang berkembang pada masa kolonial Hindia Belanda.

Dalam kajian sejarah kuliner, rijsttafel mulai dikenal pada abad ke-19, ketika keluarga-keluarga Belanda di tanah Jawa menyajikan beragam hidangan dalam porsi kecil secara berurutan. Istilah ini berasal dari bahasa Belanda, rijst yang berarti nasi dan tafel yang berarti meja, yang secara harfiah merujuk pada “meja nasi”. Namun, maknanya melampaui sekadar penyajian makanan.

Di masa itu, rijsttafel menjadi simbol status sosial. Semakin banyak jenis hidangan yang disajikan, semakin tinggi pula gengsi tuan rumah. Beragam masakan, mulai dari nasi goreng, sate, hingga olahan daging seperti dendeng dan empal, ditampilkan sebagai representasi kekayaan rasa sekaligus kekuasaan kolonial atas tanah jajahan.

Namun waktu mengubah segalanya. Konsep yang dahulu sarat dengan simbol kemewahan itu perlahan memudar dari ruang-ruang keluarga. Tidak banyak lagi rumah makan atau rumah tangga yang secara sadar menyebut praktik makan bersama sebagai rijsttafel. Meski demikian, esensinya diam-diam tetap hidup dalam tradisi Lebaran: satu meja, banyak hidangan, dan kebersamaan sebagai inti.

Di tangan generasi baru, makna itu bahkan mengalami pergeseran yang lebih dalam. Head Chef Sheraton Bandung Hotel & Towers, Tri Julianto, mencoba mengembalikan konsep rijsttafel ke akarnya, bukan sebagai simbol kemewahan, melainkan sebagai ruang kebersamaan.

“Rijsttafel itu sebenarnya seperti makan tengah. Semua hidangan disiapkan, lalu dinikmati bersama dalam satu meja,” ujarnya.

Pada momen Idul Fitri 1447 Hijriah, konsep tersebut dihadirkan kembali dengan pendekatan yang lebih akrab. Menu yang disajikan bukan hidangan asing, melainkan makanan yang telah lama hidup di dapur-dapur keluarga Indonesia: ketupat, opor ayam, semur daging, hingga sayur labu.

Di sinilah tradisi menemukan wajah barunya. Di ruang hotel yang modern, suasana makan justru diupayakan terasa seperti di rumah sendiri, hangat, intim, dan tanpa sekat. Satu paket hidangan disusun untuk dinikmati bersama oleh dua hingga empat orang, menghadirkan kembali ritus makan yang perlahan tergerus oleh gaya hidup individual.

sumber : Antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |