Terjebak Perang Iran, Trump Kini Hanya Didukung 33 Persen Warga AS

2 hours ago 2

Seorang aktivis membentangkan spanduk menolak perang Iran saat Menteri Pertahanan Pete Hegseth menjalani rapat dengan pendapat dengan Komite Senat AS, Selasa (21/7/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Tingkat kepuasan publik terhadap Presiden AS Donald Trump merosot ke titik terendah selama masa jabatannya. Kekecewaan ini dipicu sikap sebagian besar warga Amerika yang khawatir perang AS dengan Iran akan berlangsung lama.

Menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos yang rampung pada Senin, hanya 33 persen responden dalam survei yang berlangsung selama empat hari tersebut menyatakan setuju dengan kinerja Trump di Gedung Putih, sementara 64 persen menyatakan tidak setuju. Tingkat kepuasan terhadap Trump—yang turun dari 35 persen dalam jajak pendapat awal bulan ini dan berada di titik terendah sepanjang masa jabatannya saat ini—menyamai rekor terendah yang pernah tercatat pada Desember 2017.

Setelah kembali ke Gedung Putih pada tahun 2025 dengan dukungan kurang dari separuh masyarakat terhadap kepresidenannya, popularitas Trump tahun ini terpuruk setelah ia memerintahkan serangan terhadap Iran bersama sekutu AS, Israel. 

Konflik yang terjadi kemudian melumpuhkan seperlima perdagangan minyak global, memicu lonjakan harga bensin yang membebani rumah tangga di AS—serta menyulitkan sekutu Trump dari Partai Republik yang berupaya mempertahankan mayoritas kursi di Kongres dalam pemilihan umum sela bulan November.

Trump, yang berkampanye dengan janji untuk mengendalikan inflasi dan menghindari perang berkepanjangan, awalnya menyatakan bahwa konflik dengan Iran hanya akan berlangsung selama beberapa minggu. Namun, Iran terbukti tangguh dan terus sangat membatasi lalu lintas perdagangan minyak melalui Selat Hormuz, bahkan setelah ketegangan konflik mereda.

Sekitar 80 persen warga Amerika—termasuk 87 persen pendukung Partai Demokrat dan 71 persen pendukung Partai Republik—berpendapat bahwa keterlibatan AS terkait Iran "akan berlangsung dalam jangka waktu yang lama," menurut hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos. Hanya 16 persen responden yang memperkirakan konflik tersebut akan berakhir dalam beberapa minggu.

Dalam sebuah rapat umum politik di Garden City, New York, pada hari Jumat, Trump mengatakan bahwa membayar "sedikit lebih mahal untuk bensin" sepadan dengan upaya memastikan "negara yang sangat jahat" tidak memiliki senjata nuklir—salah satu alasan yang ia kemukakan untuk mendukung perang tersebut.

Patut dicatat, Iran tak pernah menyatakan secara terbuka niat membuat senjata nuklir. Temuan intelijen AS juga menegaskan hal tersebut.

Sepanjang konflik berlangsung, presiden silih berganti melontarkan ancaman eskalasi dan pernyataan bahwa kesepakatan damai sudah di depan mata. Jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos menunjukkan bahwa hanya satu dari lima orang Amerika—dan hanya separuh dari kalangan Partai Republik—yang beranggapan bahwa perang tersebut sepadan dengan hasilnya.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |