Menurut data Global Energy Monitor, tambang batu bara di Indonesia menghasilkan sekitar 58 juta ton CO2e emisi metana per tahun. (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam ajang Indonesia International Coal & Energy Exhibition 2026, DOGO Power mengusung tema “Lighting Up the World with Economical, Reliable, and Stable Green Power”. DOGO Power memperkenalkan solusi terpadu berupa sistem penyimpanan energi grid-forming dan microgrid untuk pertambangan hijau yang menjawab tantangan utama transisi energi di sektor pertambangan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Menurut data Global Energy Monitor, tambang batu bara di Indonesia menghasilkan sekitar 58 juta ton CO2e emisi metana per tahun. Dengan demikian, Indonesia menjadi salah satu penghasil emisi metana tambang terbesar di dunia. Kondisi ini turut mendorong kebutuhan industri terhadap solusi energi yang lebih rendah karbon dan efisien.
“DOGO Power menawarkan layanan energi hijau sepanjang siklus operasional bagi perusahaan tambang lokal, serta mendukung transformasi industri pertambangan Indonesia menuju kegiatan operasional yang rendah karbon dan lebih efisien,” ujar perwakilan DOGO Power, Pan Pamela, dalam siaran persnya, Jumat (15/5/2026).
Di tengah gelombang transisi energi global, industri pertambangan konvensional semakin cepat bertransformasi menuju model bisnis berkelanjutan. Sebagai perekonomian terbesar di Asia Tenggara sekaligus salah satu pusat pertambangan dunia, perusahaan tambang yang beroperasi di Indonesia menghadapi dua tantangan, yakni menjaga keamanan pasokan energi sekaligus menjalankan transformasi hijau.
Melalui teknologi “4S Grid-Forming” yang dikembangkan secara mandiri, DOGO Power menyatukan empat sistem utama, yakni manajemen energi, manajemen daya, konversi penyimpanan energi, dan manajemen baterai. Dengan arsitektur terpadu dan kolaborasi cerdas antarsistem, DOGO Power membangun ekosistem energi yang aman, efisien, dan terintegrasi bagi aktivitas pertambangan.
.png)
2 hours ago
2
















































