Ruang Kolaborasi Arsitektur Dinilai Kian Penting di Tengah Tantangan Iklim dan Urbanisasi

8 hours ago 4

Hadir sebagai panggung kompetisi bergengsi bagi arsitek tanah air, LIXIL Architectural Design Competition (LADC) mendorong cara berpikir dan mendesain untuk mewujudkan ruang hidup yang lebih baik. Platform dedikasi LIXIL ini memperluas ruang dialog serta akses eksplorasi ide, membuka perspektif yang menetapkan standar baru di industri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri arsitektur Indonesia dinilai membutuhkan lebih banyak ruang kolaborasi yang mampu melahirkan gagasan desain adaptif terhadap tantangan perubahan iklim, urbanisasi, hingga keberagaman budaya Nusantara. Kompetisi arsitektur pun tidak lagi sekadar menjadi ajang adu karya, tetapi mulai diarahkan sebagai ruang dialog untuk menghadirkan solusi ruang hidup yang lebih berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, perusahaan solusi air dan hunian berkelanjutan kembali menggelar LIXIL Architectural Design Competition 2026 atau LADC 2026. Ajang ini diharapkan menjadi wadah bagi arsitek dan mahasiswa arsitektur untuk mengeksplorasi desain yang relevan dengan tantangan masa depan.

Marketing Director LIXIL Water Technology Indonesia, Arfindi Batubara, mengatakan Indonesia memiliki ribuan identitas dengan tantangan yang berbeda di setiap wilayah, mulai dari tekanan urbanisasi hingga perubahan iklim. Karena itu, menurut dia, arsitektur tidak cukup hanya menghadirkan desain yang estetis, tetapi juga harus mampu menjadi solusi.

“LADC tidak mencari desain yang sekadar indah, tetapi ide yang mampu menjadi percakapan dan solusi,” ujar Arfindi dalam keterangannya, Rabu (21/5/2026).

Tahun ini, LADC mengangkat tema “ARCHIPELAGO DIALOGUES: Architecture as a Space of Co-Creation”. Tema tersebut menyoroti Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki keberagaman budaya, alam, hingga tantangan pembangunan yang berbeda-beda, namun tetap saling terhubung.

Kompetisi itu menghadirkan panel juri internasional, di antaranya Andra Matin, Gregorius Supie, dan Richard Wood. Selain itu, para pemenang juga akan memperoleh kesempatan studio exchange di serta mengikuti perjalanan arsitektur ke Jepang.

Menurut Arfindi, LADC tidak hanya berfokus pada hasil akhir kompetisi, tetapi juga menjadi platform untuk memperluas dialog dan eksplorasi ide dalam dunia arsitektur Indonesia. Ia berharap kompetisi tersebut dapat mendorong lahirnya pendekatan desain yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Pendaftaran dan pengumpulan karya dibuka mulai 18 Mei hingga 5 Juli 2026 dengan dua kategori utama, yakni professional category dan student category. Puncak kompetisi sekaligus pengumuman pemenang akan digelar dalam rangkaian LIXIL Day of Architecture & Design 2026 pada 12 Agustus 2026 mendatang.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |