Rahasia Negosiator Iran Menguras Kesabaran Lawan, bahkan Diplomat AS hingga Menangis

6 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Di antara seni menenun karpet Persia dan rumitnya lorong-lorong diplomasi internasional, terdapat satu benang halus yang telah lama dikuasai bangsa Iran: kesabaran yang nyaris tanpa batas.

Kemampuan itu tampak jelas dalam detik-detik terakhir perundingan kesepakatan nuklir Iran tahun 2015, terutama pada momen ketika ketua tim perunding Amerika Serikat, Wendy Sherman, tak kuasa menahan air mata.

Dalam memoarnya, Sherman menceritakan bagaimana rekannya di meja perundingan dari Iran, Abbas Araghchi, tiba-tiba mengejutkannya setelah hampir dua tahun negosiasi yang melelahkan.

Ketika pembicaraan sudah berada di ambang penyelesaian, Araghchi mendadak meminta agar satu poin yang sebelumnya telah disepakati dibuka kembali untuk dibahas.

Saat itulah sisi manusiawi yang jarang terlihat dalam dunia diplomasi muncul ke permukaan. Kesabaran Sherman habis. Ia menangis karena merasa putus asa dan frustrasi.

Dengan penuh emosi, Sherman berkata, "Cukup! Kita sudah melewati tenggat waktu. Kongres juga akan segera memasuki masa reses. Kalian mempertaruhkan semua yang telah kita perjuangkan."

Tangisan yang tak terduga itu membuat delegasi Iran menyadari betapa seriusnya situasi. Mereka akhirnya memutuskan menghentikan perdebatan pada titik tersebut.

Dalam bukunya The Power of Negotiation, Abbas Araghchi mengenang peristiwa itu dengan satu kalimat yang kemudian banyak dikutip.

"Itulah pertama kalinya saya melihat seorang negosiator menangis di meja perundingan."

Kisah ini bukan sekadar anekdot diplomatik. Peristiwa tersebut menggambarkan filosofi negosiasi Iran: memainkan kesabaran lawan hingga detik terakhir.

Reputasi itulah yang mendorong Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, pernah berkomentar pada masa jabatan pertamanya, "Iran tidak pernah memenangkan perang, tetapi mereka juga tidak pernah kalah dalam perundingan."

Bahkan tokoh legendaris diplomasi Amerika, Henry Kissinger, pernah memberikan salinan buku terkenalnya Diplomacy kepada mantan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, dengan sebuah dedikasi yang sarat makna: "Untuk musuh saya yang saya hormati."

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |