Pohon yang Baik dan Bangsa yang Belajar

4 hours ago 3

Oleh : Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)

REPUBLIKA.CO.ID, Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel belum juga mereda. Kini, sepekan setelah ledakan pertama mengguncang Teheran, perang tersebut semakin belum terlihat ujung berakhirnya. Bahwa setiap perang akan menimbulkan korban jiwa adalah tidak bisa dihindari. Namun demikian kejadian pada 28 Februari 2026, hari pertama serangan AS dan Israel, sebuah rudal menghantam SD putri Shajareh Tayyebeh di kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran bagian selatan, di saat jam pelajaran berlangsung telah menyita banyak perhatian dunia.

Investigasi oleh berbagai media internasional, termasuk CNN, BBC, The New York Times, hingga lembaga verifikasi independen Bellingcat, menyimpulkan bahwa rudal yang digunakan adalah Tomahawk, satu-satunya jenis rudal jelajah yang hanya dioperasikan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat. Lebih dari 168 siswi dan 14 guru dilaporkan tewas dalam serangan itu, mayoritas adalah anak perempuan berusia 7 hingga 12 tahun. PBB menyebutnya sebagai serangan serius terhadap anak-anak, terhadap pendidikan, dan terhadap masa depan sebuah komunitas. Sebuah kalimat yang sulit dibantah oleh nurani mana pun.

Insiden Minab itu menjadi ironi yang sangat pahit. Selama bertahun-tahun, narasi yang dibangun oleh sebagian aktivis dan media Barat menggambarkan Iran sebagai negara yang melarang atau sangat membatasi perempuan untuk mengenyam pendidikan. Namun kenyataan yang ada di lapangan justru berbicara sebaliknya. Sekolah yang dihantam rudal Tomahawk itu adalah sekolah dasar khusus putri yang sedang berjalan normal di jam pelajaran, penuh dengan siswi yang hadir dan belajar. Sebuah ruang belajar yang hidup, hingga rudal memadamkannya selamanya.

Data pun memperkuat kenyataan itu. Iran mencatat tingkat melek huruf perempuan usia 15 hingga 24 tahun mencapai 99 persen, hampir setara dengan laki-laki. Rasio pendaftaran perempuan di tingkat sekolah dasar bahkan melampaui laki-laki, dengan 1,22 siswi untuk setiap satu siswa laki-laki menurut catatan UNESCO. Di tingkat universitas, hampir 60 persen mahasiswa adalah perempuan. Narasi tentang perempuan Iran yang dilarang belajar agaknya perlu dihadapkan pada angka-angka ini dengan lebih jujur.

Pentingnya mengenyam pendidikan bagi penduduk di Iran ini bisa menjadi pembenar mengapa mereka dapat dengan cepat belajar dari perang sebelumnya. Pada perang 12 hari di Juni 2025, Iran menghadapi sistem pertahanan udara Israel dan AS dengan cara yang relatif konvensional. Namun pada perang kali ini, pola serangannya berubah secara signifikan. Iran secara sistematis mengincar stasiun-stasiun radar milik AS dan Israel yang tersebar di kawasan Timur Tengah terlebih dahulu. Dengan melumpuhkan mata dan telinga sistem pertahanan lawan terlebih dahulu, Iran membuat sirene peringatan di wilayah musuh baru berbunyi saat rudal sudah dalam jarak sangat dekat.

Kemampuan adaptasi semacam itu bisa jadi merupakan buah dari ekosistem pendidikan dan riset yang dibangun dengan serius selama puluhan tahun, bahkan di bawah tekanan embargo yang menghimpit. Pemerintah Iran mengalokasikan sekitar 20 persen dari belanja negara untuk pendidikan, jauh di atas rata-rata negara berkembang. Iran memiliki sekitar 92.500 institusi pendidikan dengan total lebih dari 17 juta siswa terdaftar. Pendidikan dasar dimulai di usia enam tahun dan bersifat wajib.

Di tengah hiruk pikuk berita perang, sebuah video pendek beredar luas di media sosial Indonesia. Seseorang tampak duduk di ruang sekolah lamanya, berbagi cerita pahit kepada mantan gurunya, bahwa ia gagal lolos seleksi misi perdamaian PBB di Lebanon karena tidak mampu menjawab soal perhitungan dasar matematika. Video itu viral dan memantik reaksi beragam, mulai dari simpati hingga keprihatinan mendalam. Sebuah pertanyaan jadi muncul: apakah kita sudah cukup serius membangun fondasi pendidikan dasar yang kokoh?

Sebagai akademisi, saya meyakini bahwa akar dari semua ini ada di ruang-ruang kelas yang paling dasar. Matematika merupakan bahasa logika, fondasi berpikir sistematis, dan tulang punggung dari hampir seluruh cabang ilmu pengetahuan dan teknologi. Di era kecerdasan buatan yang semakin mendominasi, kemampuan berhitung dan berpikir logis bukan kemewahan akademik, melainkan kebutuhan dasar setiap warga negara yang ingin berpartisipasi dalam peradaban.

Sekolah di Minab yang hancur oleh rudal itu mungkin hanya akan tergores dalam satu catatan kaki sejarah. Namun demikian dapat menjadi pengingat yang sangat keras bahwa sekolah adalah tempat paling berharga yang dimiliki sebuah bangsa. Nama sekolah itu, Shajareh Tayyebeh, dalam bahasa Arab bermakna pohon yang baik. Allah SWT telah mengabadikan makna ini dalam firman-Nya, "Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit, pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya." (QS. Ibrahim: 24-25). Wallāhu a'lam.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |