REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Jenderal Serikat Nasional Pelestari Tosan Aji Nusantara (Senapati Nusantara) Hasto Kristiyanto secara resmi membuka Rapat Kerja Agung (RKA) bertema Memperkuat Sinergi Melestarikan Tradisi yang digelar di Pendapa Kridha Manunggal Budaya, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu. Forum ini menjadi ruang pertemuan para empu, pelestari, dan pegiat budaya Nusantara untuk merumuskan arah strategis pelestarian Tosan Aji.
Dalam sambutan yang sarat muatan filosofis, Hasto menegaskan bahwa kelahiran paguyuban Senapati Nusantara berakar pada pesan Bung Karno tentang bangsa yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Prinsip itulah yang, menurutnya, harus terus dihidupkan dalam setiap upaya merawat dan melestarikan Tosan Aji sebagai warisan peradaban.
Hasto kemudian merujuk kisah pewayangan Bima dalam pencarian Banyu Perwitosari, serta perjuangan Pangeran Diponegoro, sebagai metafora perjalanan spiritual dan ideologis para pelestari budaya. Ia menyamakan laku Bima yang ditempa melalui berbagai rintangan hingga mencapai hakikat Manunggaling Kawula Gusti dengan jalan hidup para empu dan penjaga Tosan Aji.
“Cerita ini relevan dengan Tosan Aji. Karena jalan ksatria itu adalah jalan penuh gemblengan lahir batin, ilmu kalakone kanthi laku,” ujar Hasto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta.
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan itu menjelaskan, sebagaimana Bima digembleng keyakinan dan perjuangan melawan hawa nafsu, para pelestari budaya pun melalui proses penggemblengan panjang untuk menemukan esensi dan pamor—baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam karya yang dihasilkan.
Menurut Hasto, Tosan Aji tidak dapat dipahami semata sebagai benda pusaka. Proses penciptaannya, ketika berbagai unsur logam digembleng menjadi satu hingga memunculkan pamor, adalah metafora kehidupan manusia itu sendiri.
“Siapapun yang akan menjadi orang, maka hidupnya juga melalui gemblengan-gemblengan itu agar keluar pamornya,” tegasnya.
Proses tersebut, lanjut Hasto, selalu disertai laku spiritual sang empu, sehingga tercipta keselarasan batin antara Tosan Aji dan pemiliknya. Di titik inilah nilai kebudayaan bertemu dengan dimensi spiritual yang menjadi ciri khas warisan Nusantara.
Ia juga mengaitkan kekayaan kebudayaan Indonesia, termasuk gamelan yang dijuluki sebagai the most democratic music oleh diplomat asing, dengan visi kebangsaan Bung Karno. Hasto mengingatkan bagaimana Bung Karno mengirim Gending Ketawang Puspawarna ke angkasa luar sebagai representasi peradaban Indonesia di jagat semesta.
“Ini menggambarkan tentang Indonesia kita di jagat semesta,” katanya.
Terkait tema Melestarikan Tradisi, Hasto menolak pandangan yang memisahkan pelestarian dari pengembangan. Menurutnya, di dalam pelestarian justru terkandung sense of development. Kekuatan sebuah organisasi maupun bangsa untuk bertahan lama terletak pada ideologi yang menopangnya.
sumber : Antara
.png)
1 hour ago
1














































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5356582/original/040605300_1758465597-20250921AA_Futsal_Four_Nation_Indonesia_Vs_Latvia-12.JPG)
