Perang, Energi, dan Masa Depan Bumi

8 hours ago 4

Oleh: Azrul Tanjung, Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah

REPUBLIKA.CO.ID, Siapa sangka peringatan Hari Bumi (22 April 2026) hadir dalam suasana yang tidak sepenuhnya optimistis. Di tengah meningkatnya kesadaran global terhadap krisis iklim, dunia justru kembali dihadapkan pada eskalasi konflik bersenjata di berbagai kawasan. Ketegangan Amerika–Israel dan Iran, misalnya, tidak hanya menyisakan persoalan geopolitik, tetapi juga membawa implikasi ekologis yang kerap luput dari perhatian.

Perang modern tidak lagi dapat dipahami semata sebagai peristiwa militer. Ia telah menjadi bagian dari problem lingkungan global. Setiap operasi militer berskala besar melibatkan konsumsi energi fosil dalam jumlah sangat tinggi—mulai dari mobilisasi pasukan, penggunaan kendaraan tempur, hingga serangan udara. Dalam konteks ini, jejak karbon dari aktivitas militer meningkat tajam dalam waktu singkat, terutama saat konflik terbuka berlangsung.

Ketika dunia masih berupaya menjaga kenaikan suhu global agar tidak melampaui ambang 1,5°C, aktivitas militer justru berpotensi menggerus capaian yang telah dibangun melalui berbagai kebijakan dekarbonisasi. Di sinilah muncul ironi: di satu sisi, masyarakat sipil didorong untuk mengurangi jejak karbon melalui perubahan gaya hidup; di sisi lain, jejak karbon dari aktivitas militer kerap berada di luar kerangka akuntabilitas iklim global.

Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis iklim dan konflik bersenjata memiliki keterkaitan yang lebih dalam. Keduanya berakar pada ketergantungan global terhadap bahan bakar fosil. Minyak dan gas tidak hanya menjadi sumber energi, tetapi juga objek perebutan kepentingan strategis antarnegara. Selama energi fosil masih menjadi fondasi utama sistem ekonomi dan pertahanan, potensi konflik akan tetap terbuka.

Jejak Karbon Perang

Dalam beberapa laporan media internasional, dampak ekologis dari operasi militer bahkan terlihat dalam skala yang mencolok. Emisi yang dihasilkan dalam waktu singkat dapat menyamai jejak karbon tahunan negara-negara tertentu. Fakta ini memperlihatkan bahwa perang tidak hanya merusak secara fisik, tetapi juga mempercepat krisis lingkungan yang dampaknya bersifat lintas generasi.

Kesadaran akan hal ini mulai muncul di kalangan masyarakat sipil global. Aktivis iklim Greta Thunberg, misalnya, menyebut fenomena ini sebagai “normalisasi genosida ekologis”. Istilah tersebut memang terdengar keras, tetapi mengandung pesan moral yang kuat: bahwa penghancuran lingkungan dalam konteks perang tidak dapat lagi dianggap sebagai konsekuensi yang wajar.

Jika selama ini publik diminta mengurangi jejak karbon individu, maka pertanyaan yang jarang diajukan adalah: seberapa besar jejak karbon perang yang terus berlangsung di luar radar kesadaran global? Pada titik ini, yang kita hadapi bukan lagi sekadar persoalan emisi, melainkan pembakaran energi fosil dalam skala masif yang dilegitimasi atas nama konflik dan keamanan.

Dalam perspektif kebijakan, situasi ini menuntut pendekatan yang lebih terintegrasi antara agenda lingkungan dan keamanan global. Transisi menuju energi terbarukan tidak lagi cukup dipahami sebagai upaya teknis untuk menurunkan emisi, melainkan juga sebagai strategi untuk mengurangi ketergantungan pada sumber daya yang kerap menjadi pemicu konflik.

Energi Bersih dan Kedaulatan Nasional

Di sinilah arah solusi perlu ditegaskan. Pertama, komunitas internasional perlu mendorong transparansi jejak karbon dari aktivitas militer sebagai bagian dari komitmen iklim global. Tanpa memasukkan sektor ini dalam perhitungan emisi, target pengendalian perubahan iklim akan selalu timpang sejak awal.

Kedua, negara-negara, termasuk Indonesia, perlu mempercepat transisi menuju energi terbarukan sebagai bagian dari strategi ketahanan nasional. Kemandirian energi tidak hanya berdampak pada stabilitas ekonomi, tetapi juga mengurangi kerentanan terhadap konflik global yang dipicu oleh perebutan sumber daya fosil.

Ketiga, penguatan kapasitas domestik dalam teknologi energi bersih menjadi agenda mendesak. Ketergantungan pada impor komponen energi terbarukan berisiko menciptakan bentuk ketergantungan baru. Oleh karena itu, investasi dalam riset, inovasi, dan industri nasional harus diposisikan sebagai bagian dari strategi jangka panjang.

Keempat, masyarakat sipil perlu terus mendorong akuntabilitas global, termasuk dalam penggunaan anggaran militer yang berdampak ekologis. Kesadaran publik yang kuat akan menjadi tekanan moral sekaligus politik bagi negara-negara untuk tidak lagi mengabaikan dimensi lingkungan dalam setiap konflik.

Bagi Indonesia, momentum ini penting untuk dibaca secara strategis. Ketergantungan terhadap energi fosil impor tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada kerentanan terhadap dinamika global. Oleh karena itu, investasi pada energi terbarukan perlu dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan nasional.

Hari Bumi seharusnya menjadi momentum refleksi sekaligus koreksi arah. Masa depan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari pilihan-pilihan politik dan ekonomi global. Selama perang masih menjadi instrumen penyelesaian konflik, dan selama energi fosil masih menjadi fondasi utama kekuatan negara, upaya penyelamatan bumi akan selalu menghadapi hambatan serius.

Di tengah situasi tersebut, transisi menuju energi bersih berkelanjutan bukan hanya kebutuhan ekologis, tetapi juga jalan rasional untuk keluar dari lingkaran konflik yang terus berulang. Selama energi masih diposisikan sebagai objek perebutan, perang akan selalu menemukan alasan untuk hadir.

Karena itu, menyelamatkan bumi tidak cukup dengan mengurangi emisi di tingkat individu, tetapi menuntut keberanian untuk mengoreksi arah peradaban. Kita sedang menentukan: apakah masa depan akan dibangun di atas energi kehidupan, atau terus disandera oleh jejak karbon perang.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |