Perang Dunia III: Mimpi Presiden Wilson dan New World Order

3 hours ago 2

Oleh : Sabpri Piliang, Pengamat Timur Tengah

REPUBLIKA.CO.ID, New order (tatanan baru) menggantikan tatanan dunia sekarang. Itulah 'utopia', di tengah kekacauan hukum internasional kini. Hipotesis konspirasi, dalam bentuk 'euphemisme Unipolar'. Sesungguhnya berwujud totaliter diam-diam, yang merusak konvensi (kesepakatan) suci pasca PD-II.

Venezuela, Iran, Gaza, tiga 'sampling' telanjang, bagaimana kekuatan konspirasi dan Unipolar, merusak seluruh pranata (tatanan) yang telah disepakati bersama. Keberpihakan Unipolar', dan dominasi kekuatan satu kutub, menjadikan pihak yang ingin menyelesaikan konflik berdasar hukum, tertahan.

Totaliter "tersembunyi" (diam-diam), membuat hukum internasional tanpa gigi. Keputusan Dewan Keamanan (DK), Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), Bantuan PBB, status wilayah pendudukan, tak dapat di eksekusi. Pelanggaran tak bisa ditindak.

Dunia, bercermin dari Venezuela, Iran, dan Gaza, kini tengah mengarah pada pemerintahan satu dunia. Kasat mata, posisinya akan menggantikan negara bangsa (nation state) yang berdaulat.

Lewat Venezuela, Iran, dan Gaza yang ditindak sebagai satu kewajaran (norma). Dibuatlah plot totalitarian yang dibungkus berbagai varian argumen yang 'soft'. Namun, tetap saja tidak seimbang.

Ketidakseimbangan geopolitik saat ini, diperankan dua pemain kunci yang saling menopang. AS merupakan satu-satunya negara yang mendominasi tatanan militer, politik, dan ekonomi, tanpa lawan. Sementara, kunci lainnya Israel, berperan semi proxi.

Kematian 72.000 warga Gaza, sesungguhnya bisa diminimalisir, tidak sampai seperempatnya. Memiliki pengaruh signifikan membentuk norma, aturan, dan kebijakan lembaga global (PBB, NATO, dan IMF), AS mestinya bisa melerai sejak dini. 

Ketiadaan penyeimbang (No Peer Competitor), dalam perang Israel-Hamas (Gaza), AS terjebak dalam pembelaan tidak win win, berhimpitan dengan posisional dan emosional Israel, yang merasa diserang lebih dulu. Argument clinic-nya, membela diri!

Dalam dunia yang dipenuhi iming-iming, AS sesungguhnya dapat memperingatkan perilaku luar batas Israel. Sekalipun Trump menyadari kuatnya Kongres Yahudi di AS: American Israel Public Affairs (AIPAC), menghormati PBB satu keharusan. AS berperan melahirkan PBB.

AIPAC berperan penting melakukan lobi untuk kepentingan Israel di pemerintahan AS. Hampir setiap Presiden AS yang terpilih berkelindan dengan AIPAC. Lembaga ini mendanai kampanye politik, serta mempengaruhi kebijakan luar negeri AS.

Peran AIPAC juga tidak kecil, untuk memastikan dukungan bipartisan dari dua partai (Republik dan Demokrat) terhadap negara Israel. Hingga, siapa pun pemenang Pemilu AS, bagi AIPAC tak ada perbedaan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |